BANTUL – Sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Bantul terpaksa harus menghentikan operasionalnya.
Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab sehingga mengakibatkan gulung tikar.
Dari catatan Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul setidaknya selama dua tahun terakhir ada 12 destinasi wisata di wilayahnya yang tutup.
Adyatama Kepariwisataan Dispar Bantul Markus Purnomo Adi mengatakan, 12 destinasi yang tutup itu dari berbagai kapanewon.
Mayoritas merupakan destinasi yang diinisiasi kelompok masyarakat dalam wujud buatan bukan dipadukan dengan alam.
Menurutnya, 12 tersebut benar-benar sudah tidak ada aktivitas kepariwisataan lagi.
“Ada beberapa yang sudah tidak aktif ada juga sudah tidak ada pedagangnya tetapi masih bisa dikunjungi,” bebernya, Senin (4/11/2024).
Kondisi tersebut umumnya terdapat pada destinasi yang memadukan lanskap alam.
Dicontohkannya seperti Bukit Tumpak sudah tidak ada pedagangnya tetapi tidak bisa disebut mati karena bukitnya masih ada dan bisa dikunjungi.
Adapun 12 destinasi yang sudah tutup di antaranya, Mbulak Umpeng Srimartani, Dempak Indah Mangunan, Jogja Youth Farming Argomulyo, Marubil Carnival Park Munthuk, Opak Zoo tutup dan berganti menjadi Teras Opak Srihardono, Pasar Kenangan Poncosari, Polaman River Tubing Argorejo, Taman Nggirli Srimulyo, Taman Nggirli Sriharjo, Taman Senja Ngelo Pleret, Taman Tempuran Cikal Srimulyo, Taman Teratai Biru Srimulyo.
Pria yang biasa disapa Ipung ini menyampaikan, destinasi yang sudah dianggap tutup atau mati ketika lokasi tersebut sudah ditinggalkan pedagang, pengurus dan tidak bisa dikunjungi lagi.
Artinya sudah tidak ada memiliki keunggulan tersendiri.
“Kalau yang terbentuk dari alam terus ditinggalkan pedagangnya tidak bisa kami sebut itu mati karena masih ada pemandangan atau memiliki daya ungkit alamnya,” ungkapnya.
Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dispar Bantul Yuli Hernadi menambahkan, tutupnya jujugan wisata yang pernah ada itu dipengaruhi beberapa faktor penyebab.
Di antaranya sengketa pengelolaan ketika ramai banyak orang yang berkepentingan akhirnya rebut lantas bubar.
Bisa juga karena wisata di dekat sungai terus kena banjir akhirnya sepi tidak dikunjungi mengakibatkan tidak laku.
“Jadi banyak yang mempengaruhi atau bisa juga tren wisatawan yang senang di kali atau di sawah lantas bergeser,” tuturnya.
Ada juga beberapa destinasi yang hidup segan mati tak mau.
Kecenderungan destinasi wisata terkadang hanya berumur satu tahun setelahnya sepi dan menghilang.
Yuli mengaku terhadap situasi tersebut instansinya hanya terbatas dapat melakukan pembinaan, pelatihan, dan edukasi.
Itu karena dalam beberapa aspek Dispar tidak dapat mengintervensi sehingga hanya sebatas mempromosikan dan membinanya.
“Kalau berdiri di tanah kas desa kami tidak bisa intervensi bantuan pendanaan juga perlu perencanaan yang matang,” tegasnya. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva