Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berhenti dari Satpam, Ari Wibowo Fokus Budi Daya Cacing Sutra, Dijadikan Pakan Ikan, Dilirik Kalurahan untuk Pengembangan Lebih Lanjut

Khairul Ma'arif • Jumat, 1 November 2024 | 16:30 WIB
PELUANG: Cacing sutra yang sudah siap jual dipisahkan dalam satu kolam yang ada pemompaan air.
PELUANG: Cacing sutra yang sudah siap jual dipisahkan dalam satu kolam yang ada pemompaan air.

RADAR JOGJA - Berawal dari keresahan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk pembenihan ikan lele. Ia lantas belajar dengan teman untuk budi daya cacing sutra dan kini meraup banyak untung. Itu yang dilakoni Ari Wibowo, warga Padukuhan Sorobayan, Gadingsari, Sanden.

Ari Wibowo awalnya bekerja sebagai satpam disambi dengan melakukan pembenihan ikan lele. Cacing sutra dijadikannya sebagai pakan untuk menunjang pemberdayaan ikan lele. Kebutuhan pakannya yang banyak mengharuskannya putar otak. 

Kondisi itu semakin diperkeruh karena sangat sedikit produsen cacing sutra di DIY. Akhirnya, pria 42 tahun ini memutuskan untuk turut membudidaya cacing sutra. Memanfaatkan lahan di samping rumahnya seluas 560 meter sebagai sarana pendukung. 

"Kalau banjir susah, cacing sutra keinginan saya membudidaya dari Desember 2023," ucapnya, Rabu (30/10/2024). Awalnya dia melakukan pengolahan lahan dan membuat petakannya untuk tempat cacing sutra. 

Setiap petakan nanti ditebar benih cacing sutra sebanyak dua liter. Setiap tiga hari sekali diberikan makan menggunakan pelet. Air bersih dari sumur menjadi sarana pendukung untuk menunjang agar dapat berkembang jumlahnya. 

"Dari tebar bibit setelah tiga bulan dapat dipanen bertahap," tambah Ari. Panennya memang dilakukan bertahap agar kualitasnya terjaga. Di awal panenan dalam sehari hanya lima liter cacing sutra. 

Kini sudah meningkat hingga rata-rata 10 liter per hari cacing sutra dipanen. Menurutnya, penjualan cacing sutra lancar karena sudah memiliki pembudidaya ikan lele. Bahkan terkadang sering kewalahan memenuhi kebutuhan pembeli. "Kendala pas musim hujan kalau panen sedikit bermasalah," ungkapnya.

Ari menceritakan, dahulu diawal diajari temannya dari Sedayu yang sudah memulai budi daya cacing sutra. Dari situlah dia dapat belajar sepenuhnya hingga bisa berjalan seperti sekarang. 

Memang keuntungan dari budi daya cacing sutra tidak begitu mumpuni di awal memulai. Per liter cacing sutra dihargai Rp 40 ribu yang konsumennya masih di sekitaran Bantul dan segelintir dari Kulon Progo. "Tetapi dua bulan terakhir ini bisa mencapai 10 jutaan penjualannya,"  ujarnya. 

Lurah Gadingsari Widodo mengaku akan mengupayakan pemberdayaan dalam budi daya cacing sutra dan pembibitan ikan lele. Bahkan Pemerintah Kalurahan Gadingsari sudah menyiapkan Rp 25 juta untuk 2025 pengembangan lebih lanjut. Itu karena pangsa pasarnya, khususnya cacing sutra yang masih banyak tetapi penjualnya sedikit. 

Sudah disiapkan tanah kas desa (TKD) sekitar 1.500 meter untuk pemberdayaan cacing sutra. "Peluang bisnis ini masih sangat luas. Ikan hias, gurami, lele membutuhkan cacing sutra," tuturnya.

Permintaan cacing sutra masih tinggi, tetapi pemenuhan produsen masih sangat minim sehingga diambil peluang tersebut. (rul/laz)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#budi daya #pembenihan ikan #lele #kebutuhan #pemberdayaan #Bantul #Cacing Sutra #Pakan #ari wibowo