RADAR JOGJA - Para petani di Padukuhan Prancak Glondong, Panggungharjo, Sewon, Bantul menggelar tradisi wiwitan Minggu (27/10/2024). Tradisi peninggalan leluhur yang telah mengakar itu sebagai bentuk syukur dan sarana berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
”Syukur karena telah diberikan hasil yang melimpah. Juga berdoa semoga proses pemanenan diberikan kelancaran tanpa halangan,” jelas Parjiman, tokoh agama Padukuhan Prancak Glondong di sela wiwitan.
Ya, hasil panen padi varietas gilirang kali ini menggembirakan. Per hektare lahan pertanian menghasilkan lima ton gabah basah. Menurutnya, ada lahan seluas tiga hektare yang dikelolanya. Semuanya ditanami padi varietas gilirang. ”Sejak saya menikah belum pernah membeli beras untuk makan. Karena hasil panen sangat mencukupi,” ucap sarjana lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini.
Seperti tanaman padi pada umumnya, kata Yuli, tidak ada perlakuan khusus untuk perawatan varietas gilirang. Yang perlu diwaspadai justru serangan hama tikus dan burung. Hama burung, misalnya, akan muncul ketika menjelang musim panen. ”Hama tikus munculnya saat mulai pembuahan,” tuturnya.
Kendati begitu, Yuli tak begitu mengkhawatirkannya. Para petani telah memiliki cara untuk menanganinya. ”Penanganannya dengan cara tradisional yang biasa digunakan petani,” katanya.
Aryunadi, salah satu tokoh masyarakat Prancak Glondong mengatakan, tanah seluas tiga hektare merupakan tanah bengkok dukuh. Dia menyewanya, antara lain, untuk mendukung program kedaulatan pangan pemerintah pusat. ”Yang pasti untuk membantu teman-teman petani,” tuturnya.
Dari hasil panen, Aryun, sapaannya mengaku memperoleh bagi hasil. Kendati begitu, sebagian besar di antaranya diberikan kepada masyarakat sekitar. (zam)
Editor : Sevtia Eka Novarita