BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul masih fokus menghadapi kekeringan di sejumlah wilayahnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul masih melakukan droping air sejak akhir Juni. Sampai saat ini, kekeringan belum tuntas dihadapi warga Bantul di sejumlah kapanewon.
"Saat ini kami masih fokus droping air karena banyaknya yang meminta, seperti yang terjadi di Sleman perlu diwaspadai," ujar Kepala Bidang Kedaruraran, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol, Selasa (15/10/2024).
Menurutnya, untuk menghadapi musim penghujan seperti biasanya selalu diadakan komunikasi dengan pos bansar untuk waspada dan siap siaga. Sementara ini belum ada tindak lanjut untuk melakukan langkah-langkah efektif menghadapi musim hujan yang sering disertai angin kencang. Antoni mengungkapkan, sejak akhir Juni 2024, BPBD Bantul sudah menyalurkan 207 tangki air yang terdiri dari 166 dari APBD Bantul. Sedangkan sisanya 41 tangki air yang disalurkan dari CSR melalui BPBD. Masing-masing tangki umumnya berisi lima ribu liter air. "Kekeringannya di sembilan kapanewon," sebutnya.
Angka tersebut terdiri dari Kapanewon Bambanglipuro, Dlingo, Imogiri, Kasihan, Pajangan, Pandak, Piyungan, Pundong, dan Sedayu. Dari sembilan kapanewon tersebut tersebar di 22 kalurahan dengan dampak terhadap 12.600 jiwa dan 2.792 KK. "Dlingo paling parah kekeringannya karena sudah didroping air sebanyak 980 ribu liter," lontarnya.
Antoni mengaku, sudah ditetapkan status siaga kekeringan di Bantul hingga akhir Oktober. Menurutnya, kalau mengacu pada prediksi BMKG daerah DIJ sudah diguyur hujan mulai 1-10 September. Kendati begitu, tidak berdampak terhadap situasi kekeringan di Bantul. Itu karena intensitas hujan yang turun di Bantul masih rendah belum tinggi.
"Kecuali hujannya sudah deras selama seharian itu harapannya bisa terisi air tanah," tuturnya.
Seharusnya ketika hujannya sudah merata dari September mulai berkurang masyarakat yang mengalami kekeringan. Tetapi, sampai sekarang kenyataannya masih ada saja warga yang meminta droping air bersih. Antoni menduga kondisi tersebut terjadi karena tahun lalu musim kemaraunya panjang tetapi musim hujannya pendek sehingga air tanahnya cepat turun. (rul/eno)