RADAR JOGJA - Keracunan yang menimpa para siswa SD Unggulan Aisyiyah Bantul diduga berasal dari lauk makan siang berupa nugget ayam. Makan siang itu konsumsi harian anak-anak yang memang rutin diselenggarakan di sekolah itu.
Kepala Sekolah SDU Aisyiyah Bantul Suwardi menyampaikan, pihak yang mengonsumsi makan siang itu tidak hanya para siswa, tetapi juga guru-guru. Ada 716 siswa dan 78 guru yang menyantap makanan yang sama pada siang itu.
"Guru-guru kami tidak ada kendala terdampak mual dan muntah. Itu ada 64 siswa," tutur Suwardi. Lima di antaranya harus dirawat di rumah sakit, tapi kini satu siswa sudah diizinkan pulang. Empat siswa lainnya masih opname.
Suwardi bertanya-tanya terhadap peristiwa keracunan di sekolahnya, karena berbarengan di hari yang sama di Kalurahan Patalan. Menurutnya, akan lebih selektif lagi berkaitan makanan yang dijadikan makan siang itu.
Baca Juga: Shafa Al Zahra Sabet Emas Pertama Balap Sepeda DIJ, Sebelumnya Sumbang Perunggu di Nomor TTT
Baca Juga: Tanaman Anggrek Vanda Tricolor Var Suavis Jadi Media Promosi Pariwisata Sleman
Selanjutnya makan siang yang diduga menjadi penyebab keracunan dimasak di sekolah. "Selama ini aman-aman saja, apalagi agak aneh aja yang dimakan sama tetapi hanya 64 siswa yang mengalami," tuturnya.
Dia memastikan, tempat masak dan bahan baku makanan dalam kondisi bersih dan baik, juga tidak kedaluwarsa. Namun dirinya menganggap ini sebagai musibah yang tidak dapat terelakan.
Terkait tindak lanjut ke ranah hukum, Suwardi belum dapat memastikan karena masih harus melihat faktor penyebabnya lebih dahulu. Selain itu, sekolah yang dipimpinnya merupakan bagian dari yayasan, sehingga nanti akan berkomunikasi dulu dengan pimpinan.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Tri Wiidiyantara menambahkan, keracunan di dua lokasi berbeda dengan konsumsi makanan juga berbeda, memang bisa saja terjadi. Hal itu bisa saja karena yang keracunan mengonsumsi makanan mengandung bakteri.
Sedangkan yang tidak terdampak keracunan makanannya terbebas dari bakteri. "Atau dari sisi daya tahan tubuhnya yang berbeda-beda juga bisa,” tuturnya.
Kini sampel makanan sudah diambil untuk dicek di laboratorium. Hasilnya diperkirakan akan ke luar setelah dua pekan berlalu. Meskipun dalam dua pekan hasilnya belum pasti keluar karena dugaan keracunan di Ponpes Darul Mushlihin Sanden pun hingga kini belum ada hasil uji laboratorium sampelnya.
Menurutnya, bakteri pada makanan tidak menimbulkan bau atau membuat perbedaan. Sehingga makanan yang dikonsumsi rasanya biasa saja tidak mencurigakan kedaluwarsa.
Baca Juga: Gandeng Pendekar United, By.U Ajak Pelajar Di Yogyakarta Wujudkan Mimpi Jadi Pemain Futsal Pro
Baca Juga: Gandeng Pendekar United, By.U Ajak Pelajar Di Yogyakarta Wujudkan Mimpi Jadi Pemain Futsal Pro
"Bakterinya macam-macam seperti bakteri salmonella yang mencemari makanan tidak mengubah bentuknya,” ucap Agus.
Dia menuturkan, Dinkes sudah bertemu dengan kepala puskesmas se-Bantul agar nantinya meningkatkan edukasi terhadap produsen makanan. Selain itu juga ada sosialisasi sehingga ke depan bisa memilah produk pangan yang lebih baik.
Tentang jumlah korban keracunan makanan dari dua lokasi berbeda, ternyata kini jumlahnya bertambah. Korban dari Kalurahan Patalan yang awalnya 25 orang, kemudian bertambah 160 orang pada Kamis, kini telah menjadi 165 orang.
Dari jumlah itu, ada 16 orang yang harus dirawat di rumah sakit, terdiri atas lima orang di RSUD Panembahan Senopati, satu orang di RS Saras Adyatma, RS PKU Muhammadiyah Bantul, dan RS Nur Hidayah. Kemudian empat di RS Rachma Husada, dan Klinik Mitra Husada Dlingo.
Hingga kini jumlah korban keracunan di Patalan masih terus didata untuk di-update jumlahnya. Dari hasil monitoring korban yang dirawat akibat keracunan makanan di Patalan, sudah mulai membaik.
Sementara korban keracunan di SD Unggulan Aisyiyah berjumlah 64 yang mana lima di antaranya dirawat di RS. Tiga siswa opname di RS PKU Muhammadiyah, dua siswa sisanya di RSUD Panembahan Senopati dan RS UII. (rul/laz)
Editor : Heru Pratomo