RADAR JOGJA – Petani bawang merah di Bantul memasuki masa panen sejak akhir Agustus lalu. Hanya saja, hasilnya tidak maksimal karena bawang merah diserang jamur.
Petani Tirtohargo, Kretek Arip Mualim mengaku, jamur mengakibatkan bawang tidak sepenuhnya merah. Sehingga terdapat warna keputihan pada bawang. Hal ini disebabkan cuaca yang cenderung panas pada siang hari. Serta udara dingin saat malam hari. “Ini panen tidak maksimal, kalau disimpan tidak tahan lama,” ungkapnya Minggu (8/9/2024).
Jika hasil panennya bagus, bawang merah dapat disimpan hingga empat bulan lamanya. Sedangkan untuk panen kali ini, hanya bisa disimpan satu bulam.
Arip menuturkan, lahan yang dipanennya seluas 560 meter persegi. Total bawang merah yang dihasilkan sekitar 7-8 kuintal. Harga jualnya kini hanya Rp 10 ribu per kilogram. Padahal tiga hari lalu, harganya sempat di angka Rp 15 ribu per kilogram. “Harganya tidak tentu, naik-turun,” tuturnya.
Sebenarnya, lanjutnya angka penawaran tersebut juga tidak terlalu bagus. Itu karena pada musim panen sebelumnya pernah dihargai Rp 30 ribu. “Waktu itu tanam 630 meter persegi dapat Rp 45 juta,” ungkap Arip.
Namun, katanya, modal yang dikeluarkan sama. Karena harga benihnya sudah mencapai Rp 37 ribu. Sedangkan benih saat ini hanya Rp 30 ribu.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengungkapkan, dari akhir Agustus hingga saat ini sudah ada sekitar 800 hektare lahan bawang merah yang dipanen. Itu tersebar di Kretek, Sanden, dan Imogiri. Setiap satu hektare lahan, rata-rata menghasilkan 20 ton bawang merah.
“Diperkirakan Bantul menghasilkan 1.600 ton bawang merah,” tuturnya.
Menurutnya, panen bawang merah kali ini harga jualnya lebih baik dibanding tahun lalu. Pada 2023, petani menjual bawang merahnya seharga hanya Rp 8 ribu per kilogramnya. Sedangkan pada periode kali ini yang petani dapat menjual Rp 10 ribu hingga Rp 13 ribu per kilogram. (rul/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita