Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Aipda Anto Harmoko, Polisi di Bantul Yang Nyambi Jadi Petani, Sirami Tanaman dengan Perintah Suara

Khairul Ma'arif • Jumat, 6 September 2024 | 15:30 WIB

 

INOVATIF: Aipda Anto Harmoko saat merawat lahan pertaniannya dengan memanfaatkan teknologi.
INOVATIF: Aipda Anto Harmoko saat merawat lahan pertaniannya dengan memanfaatkan teknologi.

RADAR JOGJA - Anggota polisi di Bantul, Aipda Anto Harmoko membuat terobosan di bidang pertanian. Pria yang nyambi sebagai petani ini memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menunjang aktivitasnya di persawahan. 

Anto memanfaatkan Google Assisstant untuk membantu melakukan penyiraman lahan pertaniannya. Bantuan dari aplikasi itu untuk memberi perintah suara, sehingga tanpa perlu keliling otomatis lahan pertanian cabainya tersirami secara merata.

Pemanfaatan ini masih sangat jarang digunakan untuk bidang pertanian. "Inovasi ini saya mulai sejak listrik masuk di area persawahan Parangtritis sekitar tahun 2022,"  terang Anto kemarin (5/9). Adapun lahan pertanian cabainya berada di Kretek, Parangtritis, Bantul.

Anggota Polri yang bertugas sebagai Banit Samapta Subsektor Polsek Kretek ini berhasil mengembangkan teknologi tepat guna berbasis internet of things (IoT). Teknologi ini memungkinkan penyiraman sawah dilakukan secara menyeluruh dengan bantuan Google Assistant, yang menghubungkan berbagai perangkat elektronik untuk menyirami tanaman secara efisien.

 Ide ini diawali karena kesibukannya sebagai anggota Polri, sehingga harus bisa membagi waktu antara berdinas dan mengelola sawah. "Inovasi ini menjadikan saya bisa membagi waktu secara efektif. Sawah tetap terkelola dengan baik, tanpa mengganggu waktu tugas saya,"  tambah pria berusia 43 tahun ini.

Inovasi ini sangat membantu pekerjaannya menyirami tanaman cabai dan bawang merahnya. Selain meringankan pekerjaan, dapat menghemat biaya produksi dan tenaga di sawah. Itu lantaran bisa dioperasionalkan dari jarak jauh selama terhubung jaringan internet.

Sebelumnya, Anto masih memakai cara konvensional yaitu menggunakan mesin pompa air bertenaga bahan bakar minyak (BBM) untuk penyiraman. Penyemprotan pun dilakukan secara manual.

Anto tergabung dalam Gapoktan Ngudi Makmur Samiran, Parangtritis. Dikatakan, ia terinspirasi dari sebuah video YouTube tentang pemanfaatan Google Assistant dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah ide untuk mengadopsi teknologi itu untuk kebutuhan pertaniannya.

"Perkembangan teknologi sangat pesat dan saya ingin memanfaatkannya untuk meningkatkan efisiensi di bidang pertanian," tuturnya. Ia menjelaskan, peralatan yang digunakan cukup sederhana dan terjangkau.

Peralatan yang ia beli, antara lain, smart plug, smart breaker, sprinkle air, pipa, modem internet, dan CCTV. Total biaya sekitar Rp 3 juta.

"Saya membeli peralatan ini sebelum listrik tersedia di sawah. Baru setelah listrik masuk pada 2022, saya mulai memasangnya," ujar Anto.

Untuk mengontrol semua perangkat ini, Anto menggunakan aplikasi Smart Life yang dapat diunduh secara gratis di Play Store. Aplikasi ini memungkinkan Anto mengontrol penyiraman di sawahnya yang memiliki luas sekitar 300 meter persegi hanya dengan perintah suara. (rul/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perkembangan teknol #polres bantul #Aipda Anto Harmoko #google assistant