BANTUL – Seorang anggota DPRD Bantul terpilih menjadi perbincangan warganet di media sosial (Medsos) karena datang pelantikan mengendarai sepeda motor Smash lawasan.
Berbeda dari umumnya wakil rakyat yang menggunakan kendaraan roda empat saat pelantikan.
Adapun pelantikannya sendiri dilakukan pada Selasa (13/8/2024) di Kantor DPRD Bantul.
Sosok wakil rakyat sederhana itu ialah Nur Huda Waskitha Yoga yang terpilih dari Dapil V Bantul yakni Kapanewon Pajangan, Pandak, Sanden, dan Srandakan.
Dia datang mengendarai sepeda motor Smash berwarna biru dengan memboncengi istrinya.
Nur Huda mengaku, kesehariannya yang memang sering menggunakan motor untuk mobilitas sehingga terbawa saat pelantikan.
“Awalnya berencana naik mobil pikap sama relawan tetapi tidak jadi karena sedang diservis,” ujarnya, Rabu (14/8/2024).
Dia menceritakan, motor yang dibawanya itu legend. Kendaraan perjuangannya sejak masih semasa SMA hingga sekarang.
Motor itu lah yang menjadi saksi bisu, menemani setiap gerak langkahnya dari pelajar hingga seorang anggota DPRD Bantul sekarang.
“Sewaktu kampanye juga seringnya mengendarai motor itu untuk sosialisasi di masyarakat,” imbuhnya.
Motor Smash tahun 2003 itu menurutnya pernah berjaya pada masanya ketika awal-awal dibeli.
Lambat laun seiring banyaknya keluaran motor baru, motor ini bukan lagi primadona alias barang lawasan.
Pria lulusan UIN Sunan Kalijaga ini tak menyangka bisa menjadi wakil rakyat.
Bukan konglomerat, melainkan petani tulen sejak 2019 lalu.
Berbekal finansial dan modal sosial terbatas kini dirinya terpilih.
Suaranya mampu unggul melawan banyak Caleg kawakan seperti Jumirin dari Gerindra dan Heru Sudibyo dari Golkar.
Meski sekarang duduk di kursi legislatif, pria lulusan sarjana ilmu komunikasi ini mengaku masih menjadi petani tulen.
“Saya melihat bapak mertua menjadi petani hidupnya tentram akhirnya mengikutinya,” tuturnya.
Kesehariannya dulu, pria kelahiran tahun 1989 ini sering membantu orang tuanya untuk menjualkan hewan ternak.
Beberapa peluang kerja pernah ia lakoni. Pada 2019, hidupnya jatuh bangun membuka usaha mulai dari konveksi baju hingga fotocopy.
"Melihat survey BPS juga yang menyatakan minimnya petani usia muda, dari situ saya memantapkan diri menjadi petani hingga sekarang usai meminta restu dari istri,” imbuhnya.
Bapak lima anak ini mengungkapkan, keputusannya mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif pada Februari lalu karena dorongan berbagai pihak. Mulai dari keluarga hingga sejumlah warga.
Dia menceritakan, bisa terpilih menjadi anggota dewan bukanlah hal mudah. Dia mesti bersaing mendapatkan kursi di parlemen Bantul.
“Saya jual 100 ekor kambing buat modal kampanye,” bebernya diselingi tertawa.
Namun, dipastikannya uang hasil penjualannya itu bukan untuk politik uang.
Melainkan modalnya berkeliling menemui masyarakat semasa kampanye.
Selain itu, uang tersebut juga digunakan untuk para relawan yang membantunya selama proses sosialisasi.
“Karena kan relawan juga butuh makan saya yang biayai,” ungkapnya.
Kambing 100 ekor itu dijual secara bertahap tidak langsung seluruhnya. Kalau ditotal kambing sebanyak itu diperkirakan nilainya mencapai Rp 250 juta. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva