BANTUL - Angka pria di Kabupaten Bantul yang melakukan vasektomi masih sedikit dibandingkan.
Para suami-suami ini lebih senang memakai alat kontrasepsi kondom dibanding harus melakukan vasektomi.
Alasan itu didasarkan karena lebih banyak pria di Bantul yang menggunakan kondom untuk mencegah kehamilan.
Dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Bantul nampaknya vasektomi belum begitu familiar di kalangan kaum Adam.
Itu karena jumlahnya hanya mencapai 592 pria yang melakukannya. Sedangkan yang memakai kondom jumlahnya jauh lebih banyak.
"Sepanjang 2024 ada 13.544 pria yang menggunakan kondom sebagai upaya KB," ujar Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3APPKB Bantul Suprabandari, Jumat (2/8/2024).
Vasektomi dan pemakaian kondom merupakan upaya KB dari sisi laki-laki.
Meski jumlahnya masih jauh di bawah perempuan yang melakukan KB, Suprabandari mengklaim, 13 ribu laki-laki yang menggunakan kondom menandakan adanya kesadaran kaum pria yang meningkat dalam partisipasi KB.
KB di Bantul masih didominasi dengan suntik, pil, dan metode IUD. "Paling tinggi suntik 36 ribu, kedua IUD 25 ribu dan sedangkan pil 6 ribu," imbuh Suprabandari.
Menurutnya, angka 13 ribu yang memakai kondom itu data yang menjadi sasaran dari BKKBN.
Itu karena jumlah tersebut merupakan pasangan subur dan kondom yang digunakannya dari BKKBN yang diberikan melalui fasilitas kesehatan.
"Jadi bukan beli secara bebas di pasaran meskipun memang ada," ujarnya. Selama ini peredaran kondom di pasaran Bantul masih terhitung aman-aman saja.
Kepala Satpol PP Bantul Jati Bayubroto menambahkan, selama ini tidak ada koordinasi dengan instansinya mengenai peredaran kondom di pasaran yang rentan dibeli oleh kalangan yang belum menikah.
Menurutnya, tidak ada informasi mengenai maraknya penjualan kondom di Bantul yang dikhawatirkan dibeli oleh warga yang belum menikah.
Bahkan, potensi gangguan tramtibum peredaran kondom di Bantul pun tidak ada.
"Kalau memang peredaran kondom sudah perlu diatur dengan Perda kami mendorong dari instansi teknis untuk mulai ada kajian pembahasan," ucapnya.
Namun, dorongan tersebut tetap harus didasarkan dengan kondisi riil di lapangan.
Jangan sampai salah perhitungan karena bukan tidak mungkin selama ini di Bantul peredaran kondomnya memang dibeli oleh pasangan suami istri atau Pasutri sah. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva