RADAR JOGJA – Imbas kebijakan penerimaaan peserta didik baru (PPDB) jalur zonasi dirasakan oleh SMP YP 17 Pandak. Sekolah swasta di Padukuhan Pandak, Wijirejo, Pandak, Bantul ini harus gulung tikar karena minimnya siswa.
Eks Kepala SMP YP 17 Pandak Edi Riyanto menyebut, Tahun Ajaran 2023/2024, sekolahnya hanya menerima siswa tidak lebih dari delapan orang. Namun dalam prosesnya, mereka memilih untuk mencabut berkas dan mendaftar di SMP negeri.
Pun dengan dengan satu orang siswa yang tengah duduk di masing-masing kelas 8 dan 9. Ikut menarik berkas dan pindah sekolah. “Di Pandak saja SMPN ada empat jumlahnya. Siswa lulusan SD terserap semua karena jalur zonasi,” sebutnya Jumat (19/7).
Situasi itu yang membuat SMP yang dipimpinnya sulit mendapatkan siswa. Meski sudah berupaya mendatangi setiap SD yang ada tetap tidak membuahkan hasil. Padahal, biaya pendidikan dan seragam beserta tas akan diberikan secara gratis.
Menurutnya, sekolah yang dipimpinnya sejak tahun 2000 tidak pernah kekurangan siswa. Saat masuk SMP negeri menggunakan jalur tes. “Ketika itu masih dapat tiga sampai empat rombongan belajar (Rombel) satu kelasnya bisa 30-40 siswa,” tuturnya.
Namun, penurunan siswa terjadi sejak berlakukan nilai ebtanas murni (NEM). Kondisi itu diperparah sejak 2017 saat sistem zonasi dijalankan. “Kadang hanya satu siswa yang mendaftar saat PPDB,” kenang Edi.
Sementara itu, Dukuh Pandak Dalmini menambahkan, kegiatan belajar mengajar sudah tidak dilakukan SMP YP 17 Pandak sejak pandemi Covid-19. “Tinggal simbah-simbah yang menyapu, itu pun sudah tidak setiap hari sekarang,” lontarnya.
Dalmini pun tidak mengetahui kondisi guru yang sempat mengajar di sekolah tersebut. Pun dengan jumlah siswa, yang disebutnya sudah minim sejak pandemi. “Terakhir itu adik saya yang sekarang usianya sudah 34 tahunan (pernah sekolah di situ, Red),” ujarnya. (rul/eno)
Editor : Satria Pradika