Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masuk Bulan Sura, Sembilan Anggota MLKI Kota Jogja Tapa Rendem di Kali Bedog Bantul

Khairul Ma'arif • Jumat, 12 Juli 2024 | 03:30 WIB

 

Masyarakat penghayat kepercayaan melakukan tradisi Tapa Rendem, di Kali Bedog, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, (11/7). 
Masyarakat penghayat kepercayaan melakukan tradisi Tapa Rendem, di Kali Bedog, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, (11/7). 
 

RADAR JOGJA - Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Kota Jogja menggelar upacara adat di awal bulan Muharam. Kegiatan rutin tahunan itu selalu diselenggarakan ketika memasuki awal bulan Sura. Namun tiap tahun pelaksanaan upacara adat yang dilakukan berbeda.


Misalnya tahun lalu upacara adat yang diinisiasi MLKI Kota Jogja berupa labuhan di Parangkusumo, Bantul. Sementara untuk tahun ini dilakukan tapa rendem di Kali Bedog, Kasihan, Bantul, Kamis (11/7). Tapa rendem diikuti sembilan anggota MLKI Kota Jogja.


Ketua Presidium MLKI Kota Jogja Raden Edy Suyudono mengatakan, tapa rendem merupakan bagian dari adat dan tradisi. Menurutnya, yang menjadi bagian adatnya adalah kungkum itu sendiri, sedangkan dilakukan pada bulan Sura menjadi bagian tradisinya. Tapa rendem bagian dari merawat kebudayaan leluhur yang dimiliki.


"Tapa rendem pada bulan Sura ini adalah mendekatkan diri kepada sesama manusia dan alam sekitar," bebernya. Dia menuturkan, tapa rendem juga sebagai sesucen untuk mensyukuri tahun yang sudah dilewati. Sekarang tahun 1958 saka Jawa berdoa agar ke depan mendapat barokah, kesejahteraan maupun ketenteraman.


Tidak hanya untuk MLKI, tetapi juga seluruh bagian di Indonesia. Semua penghayat MLKI Kota Jogja pada bulan Sura penuh dengan doa untuk keselamatan semua. Ada berbagai tapa yang ada, tetapi diusulkan dari berbagai lapisan anggota yakni tapa rendem.


Edy mengaku tahun depan mungkin tapa yang dilakukan akan berbeda lagi. Dikatakan, kegiatan ini juga didukung Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Kota Jogja. Filosofi tapa rendem merupakan rangkaian untuk mengingat masa silam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Tapa rendem merupakan media atau sarana masyarakat luas mengetahui tentang ritual yang diadakan MLKI. Itu lantaran ritual yang dilakukan sangat bermuatan lokal dan warisan leluhur. Kondisi itu membuat segala kegiatannya menjadi penting sebagai upaya pelestarian.


Sementara itu Kepala Disbud Kota Jogja Yetti Martanti menambahkan, tapa rendem menjadi upaya dalam pelestarian adat tradisi yang dimiliki. Kebetulan MLKI Kota Jogja menjadi bagian sarana mendekatkan kepada Tuhan yang Maha Esa.


Diakui, kegiatan yang dilakukan MLKI sesungguhnya sangat dekat dengan ketugasan Disbud Kota Jogja, dalam hal pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Itu karena proses yang dilakukan, mulai bersyukur dan berdoa kepada Tuhan dibingkai dengan adat tradisi.


Dia menegaskan, Disbud Kota Jogja mendukung MLKI untuk dapat beraktivitas dengan baik. Upacara adat sangat erat kaitannya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan, alam dan antar manusia itu sendiri.

Tidak hanya menyoroti, aktivitasnya saja. Melainkan juga bagaimana nilai-nilainya menimbulkan sikap dan tindakan untuk menjaga lingkungan sosial, budaya, dan alam. (rul/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kota Jogja #Tapa Rendem #Bulan Sura #Bangunjiwo #MLKI #upacara adat #Bantul #kali bedog