RADAR JOGJA - Usianya tidak lagi muda tetapi semangatnya mencari duit dari menjual besek masih selalu tersemai. Kendati anak-anaknya sudah memiliki pekerjaan tetap Narimo Sugito masih teguh mengabdikan diri sebagai perajin besek di Bantul.
Saat didatangi Narimo Sugito sedang duduk di bangku teras depan rumahnya. Tidak jauh dari tempatnya duduk susunan besek dari kulit bambu sudah tersusun rapi dan siap kirim. Besek-besek itu di antaranya dihasilkan oleh tangannya yang sudah tidak kencang lagi kulitnya.
Rumahnya terletak di Padukuhan Kaliputih, Sewon, Bantul. Selain sebagai tempat istirahat dan berteduh, rumah ini juga menjadi lokasi besek-besek terkumpul sebelum akhirnya jatuh ke tangan pembeli. Usianya sudah tidak muda lagi, meski tidak ingat betul, Narimo Sugito memperkirakan umurnya sudah menginjak 75 tahun.
Perempuan yang sudah memiliki cucu itu juga tidak ingat betul sejak kapan menjadi perajin besek. Sependek ingatannya dia hanya menyebut ketika anaknya yang pertama menginjak bangku sekolah. “Anak pertama saya kelahiran 1974,” kenangnya, Minggu (16/6/2024).
Diperkirakan mulai sejak tahun 1980-an perempuan yang biasa disapa Mbah Gito itu sudah menjadi perajin besek. Itu artinya hampir sekitar 40 tahun atau lebih diabdikan hidupnya untuk menjadi perajin besek. Menurutnya, dahulu sempat belajar dengan tetangganya sebelum akhirnya benar-benar fasih menganyam bambu menjadi besek.
Selama bertahun-tahun menjadi perajin besek produknya semakin dikenal orang banyak pelanggan di Bantul. Meski masih minim untuk penjualan ke luar kota, tetapi di dalam Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) sudah banyak yang membeli besek darinya. Keahliannya membuat besek menjadi sandaran penghasilan utamanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.Tidak hanya itu, pendapatan dari menjual besek juga tentunya digunakannya untuk membiayai pendidikan anaknya. “Alhamdulilah sekarang anak saya sudah ada yang jadi polisi dan bekerja di rumah sakit,” tuturnya.
Besek yang dijualnya ada yang ukuran 21 centimeter ada juga yang 30 centimeter.Besek ukuran 21 centimeter dijual dengan harga Rp 70 ribu untuk satu kodinya. Sedangkan untuk yang ukuran 30 centimeter harganya Rp 180 ribu per satu kodi. Menurutnya, untuk paling banyak pembelinya ukuran 21 centimeter karena secara fungsi bermanfaat.
Seperti misalnya untuk acara mantenan untuk membungkus nasi. Sedangkan untuk ukuran 30 centimeter penjualannya hanya musiman ramainya. Ketika untuk Hari Raya Iduladha seperti ini ramai yang beli ukuran 30 centimeter yang digunakan membungkus daging. Dia hanya menyetok besek sesuai pesanan yang diterimanya.
Di Padukuhan Kaliputih, Mbah Gito tidak sendirian sebagai seorang perajin besek. Tetangga-tetangga di sekitar rumahnya juga tidak sedikit yang menjadi perajin besek. Mayoritas kaum Hawa yang menjadi perajin besek. Menurutnya, sudah selama bertahun-tahun silam warga di dusunnya bekerja sebagai perajin besek.
Lintasan zaman yang berbeda-beda sampai sekarang masih membuat sejumlah perajin besek di Padukuhan Kaliputih tetap eksis. Walalupun sekarang diisi oleh kalangan ibu-ibu yang usianya sudah di atas 35 tahunan. Namun, lambat laun tentunya akan tetap berkurang jumlah perajin besek setiap tahunnya karena minimnya generasi penerus.
Mbah Gito mengaku, sekarang sangat resah karena sulitnya regenerasi perajin besek di Padukuhan Kaliputih. Menurutnya, generasi muda enggan belajar membuat besek sekarang sehingga sulit menghasilkan perajin anyar. “Lebih milih kerja di pabrik daripada jadi perajin besek,” ungkapnya. (rul/din)
Editor : Satria Pradika