RADAR JOGJA - Jogja Police Watch (JPW) mulai mempertanyakan efektivitas program Jumat Curhat milik Polda DIY. Sebab masih banyak aksi kejahatan jalanan yang melibatkan anak usia sekolah. Termasuk penyerangan sekolah yang sempat terjadi di beberapa titik.
Kepala Divisi Humas JPW Baharuddin Kamba mengatakan, penyerangan sekolah terakhir ada di SMP Negeri 1 Kasihan pada Kamis (30/4). Sampai saat ini, polisi baru menangkap dua pelaku penyerangan. Sedangkan 20 terduga pelaku lainnya, masih bebas.
Sebelumnya, aksi penyerangan diduga menggunakan petasan juga terjadi di SMKN 3 Jogja dan SMK Muhammadiyah 3 Jogja. Kedua sekolah itu diserang sekelompok siswa yang merayakan kelulusan. “Jogjakarta yang mendapat gelar sebagai Kota Pelajar tercoreng dengan aksi-aksi penyerangan terhadap sejumlah sekolah ini,” kata Bahar Minggu (2/6).
Dia pun menilai, Polda DIY perlu mengevaluasi kegiatan rutin Jumat Curhat. Sebab efektivitas kegiatan rutin tersebut untuk mencegah terjadinya aksi-aksi kekerasan jalanan belum terlihat. Bahkan penyerangan terhadap sejumlah sekolah yang kembali marak terjadi di sejumlah wilayah.
“Jika tidak bisa menekan aksi penyerangan terhadap sejumlah sekolah, maka kegiatan rutin Jumat Curhat itu untuk sementara dihentikan saja,” ungkapnya.
Program yang ada, bisa dialihkan ke hal-hal yang lebih konkret. “Misalnya mencegah aksi-aksi penyerangan agar tidak terulang kembali,” tambah Bahar.
Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana menjelaskan, hingga saat ini proses pendalaman kasus tersebut masih dilakukan oleh Polsek Kasihan dan Satreskrim Polres Bantul. Sudah ada dua orang yang diperiksa polisi. “Satpam juga sudah buat pelaporan yang tentunya akan ditindaklanjuti,” jelasnya.
Jeffry mengatakan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Polresta Jogja dan juga sekolah maupun para orang tua yang anaknya terlibat melakukan penyerangan. Kemudian, polisi juga melakukan pendekatan door-to-door ke orang tua sudah dilakukan, sekolah dan dinas terkait.
“Polres Bantul bersama Pemda Bantul dalam waktu dekat akan memanggil kepala sekolah dan juga guru BP,” katanya.
Menurutnya, penanganan tawuran pelajar maupun kenakalan remaja tidak bisa mengandalkan pihak kepolisian saja. Melainkan juga perlu keterlibatan pihak sekolah dan orang tua siswa.
Dari data anak yang terlibat, sesuai keterangan salah satu pelaku yang diamankan, sebagian besar anak yang terlibat sudah tidak sekolah. Namun saat melakukan aksinya, mereka menggunakan seragam sekolah.
“Tetap kami tangani dan tegas dalam memberi keputusan agar tidak terulang kembali,” tegas Jeffry. (tyo/eno)