Mereka menggelar merti wayang beber Pancasila untuk membangun jati diri, baik jiwa maupun raga yang berlandaskan Pancasila.
Acara merti wayang beber Pancasila ini ini dimulai dengan lomba mewarnai wayang beber khusus anak-anak, lalu dilanjutkan dengan ritual wayang beber.
Baca Juga: Sepakat Bersama Fenerbahce, Mampukah Jose Mourinho Redam Amarah dari Tim Yang Terkenal Memiliki Penggemar Yang Terkenal Sangat Fanatik
Setelah itu dilakukan kirab keliling desa dengan wayang beber Pancasila, pembagian seribu bibit tanaman kertas, dilanjutkan dengan berbagai macam pentas seni, mulai dari reyog, tari, mocopat sampai sore hari.
Acara ditutup dengan pentas ketoprak serta pentas wayang beber Pancasila.
Kepala Museum Wayang Beber Sekartaji Indra Suroingeno menjelaskan kegiatan merti wayang beber Pancasila kali ini adalah kegiatan yang digelar kedua kalinya oleh pihak Museum Wayang Beber Sekartaji dan masyarakat Padukuhan Sumbermulyo.
Gelaran merti wayang beber Pancasila tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya.
Sebab pada gelaran kali ini para masyarakat bisa menyatukan perbedaan antara anak muda dari komunitas Katolik dan remaja masjid yang dilebur menjadi remaja Bhinneka.
"Yang fundamental lagi kami meresmikan kampung ini menjadi pusat pelestarian Bhinneka Tunggal Ika yakni kampung Pancasila," jelas Indra, Sabtu (1/6).
Dijelaskan, Museum Wayang Beber Sekartaji bersama masyarakat khususnya Padukuhan Sumbermulyo telah sepakat untuk memberikan sesuatu yaitu warisan budaya tak benda (WBTb) berupa merti wayang beber Pancasila yang sudah menjadi agenda rutin tahunan untuk mendukung Pancasila agar tetap jaya.
Indra berharap dengan adanya acara merti wayang beber Pancasila ini agar masyarakat Dusun Kanutan, Padukuhan Sumbermulyo bisa menjadikan Pancasila sebagai nafas bagi setiap langkah mereka dan bisa bertoleransi tinggi agar damai sejahtera.
"Puji Gusti nanti akan kuat segala lini dan terus memawas diri untuk menjaga persatuan Republik Indonesia," tegasnya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebutkan Sri Sultan Hamengku Buwono X sendiri sudah menyatakan bahwa Kabupaten Bantul ini sebagai pintu gerbang kebudayaan yang istimewa.
Maka di setiap tempat di Bumi Projotamansari ini harus memiliki aktivitas kebudayaan.
Harapanya Kabupaten Bantul ini nanti lambat laun jika pembangunannya bisa dilakukan dengan konsisten.
Maka Bantul akan menjadi semacam taman budaya.
"Bantul sendiri itu sebagai taman budaya, menjadi kawasan yang merupakan living culture-nya DIJ dan living museum-nya DIJ," katanya.
Ia menyatakan jika Dusun Kanutan, Padukuhan Sumbermulyo ini memiliki satu sistem sosial yang sangat mendukung untuk dibuat suatu living culture dan living museum tersebut.
Sebab menurutnya masyarakat Dusun Kanutan, Padukuhan Sumbermulyo yang beranekaragam itu adalah dusun yang sangat plural di Kabupaten Bantul.
"Dusun ini adalah Kampung Pancasilanya Bantul. Di mana warganya ini memiliki budaya toleransi yang kuat, memiliki apresiasi terhadap budaya sendiri. Maka museum wayang beber Sekartaji ini sangat mendukung terciptanya living culture dan living museum di Kabupaten Bantul," cetusnya.
Tak hanya itu saja, Halim juga mengatakan bahwa wayang beber adalah sesuatu yang langka. Sebab benda itu sudah tidak ditemukan di tempat lain.
Maka dari itu, Halim berkeinginan untuk menghidupkan budaya dan merawatnya kembali, supaya Kabupaten Bantul tidak kehilangan identitasnya sebagai warga Ngayogyakarta Hadiningrat dan sebagai warga Negara Indonesia.
Editor : Bahana.