RADAR JOGJA - Menunaikan ibadah haji membutuhkan biaya tidak sedikit. Selain juga menunggu antrean yang cukup panjang. Kendati begitu, siapapun diperbolehkan melaksanakannya asal mampu secara materi, jasmani, dan rohani. Tidak terkecuali bagi Mujiyono penjual pisang di Pasar Giwangan.
KHAIRUL MA'ARIF, Bantul
Mujiyono saat ini sudah berada di Tanah Suci dan siap melaksanakan semua rangkaian ibadah haji. Ketekunannya menabung dan menyisihkan keuntungan penjualan layak dijadikan pelajaran.
Pedagang pisang dari Gulon, Srihardono, Pundong, Bantul ini berjualan pisang sudah sejak berpuluh-puluh tahun di Pasar Giwangan. Dari pendapatannya itu dia mengumpulkannya secara tekun sehingga bisa membiayai untuk melangsungkan ibadah haji.
Sudah sekitar selama 30an tahun berjualan pisang yang juga dibantu istrinya Haryani. Pasutri itu memiliki dua lapak jualan pisang di Pasar Giwangan. Mujiyono berjualan ketika dini hari hingga pagi hari matahari hendak terbit. Sedangkan Haryani berjualan mulai siang hari hingga sore hari. "Biaya haji dari hasil berjualan pisang dan bertani padi," ujar Mujiyono.
Sehari-hari dari pendapatannya berjualan pisang Mujiyono mendapat keuntungan sekitar Rp 100 ribu. Dalam kesempatan musim tahun ini dia berangkat bersama ibunya. Sedangkan istrinya tidak ikut.
Sudah sejak 2011 Mujiyono daftar haji di Kantor Kemenag Bantul.
Menurutnya, selama bertahun-tahun menyicil biaya haji dengan membeli emas terlebih dahulu. Lantas menjualnya untuk membayarkan biaya haji. Pada awal mendaftar haji, Mujiyono dipinjamkan uang sebesar Rp 25 juta oleh bank.
Setelah itu, dia menyicilnya hingga lunas dan dapat berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Selain berjualan pisang, Mujiyono memiliki pekerjaan lainnya menjadi pegawai RSUD Panembahan Senopati, Bantul. Di rumah sakit tersebut dia sudah bekerja sejak 1996 yang diawali sebagai petugas kebersihan. "Sekarang Alhamdulilah sudah menjadi petugas pendaftaran pasien," tuturnya.
Sekarang Mujiyono sudah berangkat ke Tanah Suci Mekkah sejak Jumat (24/5). Sementara itu istrinya, Haryani saat ditemui di Pasar Giwangan masih menjajakan pisangnya. Menurutnya, suaminya sudah sebelum menikah dengannya sudah berjualan pisang.
Dia membeberkan, tidak ikut berangkat haji karena dahulu tidak ikut mendaftar. Itu karena Haryani memperkirakan tidak akan selama ini antre daftar hajinya. Pasutri itu sekarang sudah memiliki dua anak yang sedang menempuh pendidikan. (din)