RADAR JOGJA – 27 Mei, 18 tahun silam Jogja mengalami tragedi gempa bumi dahsyat yang menyisakan duka mendalam. Akibat banyaknya korban jiwa dan kerugian material yang tak terhingga. Dalam mengenang kejadian tersebut, sekaligus meningkatkan awareness dan kesiapsiagaan publik, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggelar pameran foto-foto gempa 27 Mei 2006.
Kepala DPAD DIY Kurniawan mengatakan, tujuan utama diadakannya pameran tersebut bukan hanya untuk mengingat peristiwa yang pernah terjadi. Namun juga jadi momentum refleksi dan evaluasi bersama-sama."Kami ingin ini menjadi bagian evaluasi bersama, karena kita tinggal di daerah rawan bencana," katanya, Senin (27/5).
Dari data infografis yang disajikan DPAD DIY dalam pameran tersebut, gempa Jogja 2006 menelan korban lebih dari 5.000 orang dan lebih dari 38.000 orang luka-luka."Total korban meninggal dunia antara 5.778 hingga 6.234 orang," ungkapnya.
Kurniawan memaparkan, melansir dari data dan klasifikasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa total kerusakan akibat gempa Jogja 2006 masuk dalam kategori ekstrem. Karena lebih dari 800.000 orang kehilangan tempat tinggal, dengan kerugian finansial mencapai Rp 29,1 Triliun.
Kurniawan berharap dengan pameran tersebut bisa terus menyebarluaskan pada masyarakat agar senantiasa meningkatkan pemahaman dan kesiapan untuk menghadapi bencana.Harapannya tentu tidak ingin terjadi lagi tragedi serupa. “Tapi kita juga harus menyiapkan masyarakat agar bisa mitigasi secara dini," bebernya.
Lebih lanjut, selain menggelar pameran, jajaran pejabat DPAD DIY sendiri turut serta napak tilas ke beberapa titik yang berhubungan dengan tragedi gempa tersebut, antara lain adalah kawasan Sesar Opak, Bantul dan juga Rumah Domes atau Rumah Teletubbies di Sleman. Sesar Opak, itu salah satu titik pusat gempa dan harus jadi perhatian semua pihak. "Karena sampai sekarang juga masih aktif," imbuhnya.
Kepala Bidang Pengelolaan Arsip Statis DPAD DIY Rakhmat Sutopo menerangkan, foto-foto yang ditampilkan pada pameran DPAD DIY sendiri dibagi menjadi tujuh kategori.Mulai dari informasi kegempaan, kerusakan, korban, pengungsian, bantuan, relawan dan Jogja Bangkit.Total foto atau arsip yang dicetak dan dipamerkan sebanyak 33 buah.
Rakhmat menyebut dalam praktiknya juga ada proses kurasi foto yang dilakukan. Pihaknya berhati-hati memilih foto yang ditampilkan, jangan sampai justru membawa luka lama yang bersifat traumatis."Kami tidak menyajikan foto yang terlalu vulgar, agar pameran ini tidak mengeksploitasi penderitaan," tandasnya (iza/din).