Langkah konkret diambil Pemprov DIY untuk menjaga agar area tersebut tidak menjadi tempat pembuangan sampah, salah satunya dengan memasang pagar di sekitar lahan.
Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, meskipun mengawasi lahan seluas hampir 5 hektare itu membutuhkan energi yang luar biasa, tindakan ini dianggap perlu.
Salah satunya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan lahan.
"Begitu dengar kita punya lahan hampir 5 hektare, menarik semua pihak. Langkah paling konkret kami menjaga itu tidak menjadi tempat pembuangan sampah, mengapa lalu dipagar walaupun kita tahu luas itu le ngawasi kepie juga butuh energi luar biasa," katanya Minggu (26/5).
Selanjutnya, pemprov berencana melakukan 'mining' sampah, di mana sampah yang ada akan diolah melalui proses pressing dan pengeringan.
Sampah yang telah diolah kemudian akan dikirim ke tempat kerja sama yang telah disepakati untuk menggantikan batu bara.
Pengolahan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan energi yang besar.
"Energinya kan besar sekali kalau itu bisa diolah," ujarnya.
Rencana pengembangan TPST Piyungan tidak hanya berhenti pada pengolahan sampah.
Lahan tersebut juga diusulkan menjadi salah satu ruang terbuka hijau (RTH) dan objek wisata.
"Kalau dulu kan di landfill sampah diurug, sekarang kan menganga tidak kita urug," jelasnya.
Setelah sampah selesai diolah, kajian akan dilakukan untuk melihat potensi optimalisasi lahan menjadi objek lain, seperti pengembangan RTH dan pariwisata.
Salah satu ide yang muncul adalah pembangunan fasilitas wisata seperti flying fox yang memanfaatkan kontur lahan yang menarik.
"Misalnya flying fox itu kan asik banget, banyak sekali investasi yang ingin masuk ke sana," sambungnya.
Mengelola lindi, cairan yang dihasilkan dari dekomposisi sampah, juga menjadi perhatian utama.
Pengelolaan lindi ini sangat penting terutama saat hujan, karena volumenya bisa meningkat signifikan.
"Lindinya harus diolah kalau hujan itu besar sekali energinya di sana," terangnya.
Menurutnya, rencana pengembangan TPST Piyungan ini sudah menarik minat banyak investor.
Namun, pemprov memilih selektif dalam menerima investasi.
"Investasi harus ramah lingkungan," tegasnya mengingat masyarakat setempat sudah puluhan tahun terdampak oleh pembuangan sampah.
Sejumlah investor sudah menjalin komunikasi, baik secara langsung maupun virtual.
Namun, Pemprov DIY ingin memastikan bahwa investasi tersebut benar-benar dapat dieksekusi dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
"Kami tidak ingin itu jadi bahan-bahan diskusi terlalu panjang, kita tidak bisa mengeksikusinya sehingga bisa dioptimalkan bersama," tambahnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, TPST Piyungan diharapkan dapat bertransformasi menjadi lahan yang bermanfaat secara ekonomi dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi destinasi wisata baru yang menarik.
Editor : Bahana.