BANTUL – Sebanyak 5.344 pincuk mi lethek sebagai yang terbanyak dan tercatat masuk Musium Rekor Dunia- Indonesia (Muri). Rekor itu dibukukan dalam Festival Kuliner Mataraman 2024, di Pantai Baru, Poncosari, Srandakan, Bantul, kemarin (25/5/2024). Festival ini dalam rangka melestarikan makanan khas Kabupaten Bantul tersebut.
Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bantul Kwintarto Heru Prabowo menjelaskan, upaya pelestarian ini perlu dilakukan agar tidak hilang. Terlebih lagi mi lethek merupakan warisan budaya tak benda (WBTb). Pembuatan mi dengan menggunakan bahan dasar tepung tapioko dan singkong ini melibatkan tujuh kelompok wanita tani (KWT) dan 15 tenant. "Lewat kegiatan ini kami ingin mi lethek ini semakin terkenal. Termasuk hingga hingga mancanegara," kata Kwintarto.
Acara yang dihelat di Pantai Baru ini juga tanpa alasan. Pemkab Bantul sengaja memilih lokasi ini dalam rangka menyongsong difungsikannya Jembatan Padansimo tahun depan. Sekaligus membuktikan promosi wisata dan branding makanan tradisional juga bisa berdampak kepada masyarakat.Harapan masyarakat semakin mengenal Bantul dengan destinasi-destinasinya yang menarik. “Termasuk ada kuliner tradisional yang cukup melegenda, salah satunya mi lethek," ucapnya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyatakan banyak kuliner yang terkenal di Bantul. Salah satunya adalah mi lethek. Kuliner-kuliner ini dikenal tidak hanya di DIJ saja, tetapi Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan setiap kali ada tamu datang ke Bantul, selalu minta diantar ke salah tempat kuliner tersebut."Warung-warung bakmi itu, paling banyak itu di Bantul. Khususnya mi lethek yang sangat melegenda dan sangat diminati," cetusnya.
Halim juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para industri mi lethek dan warung-warung yang menjajakan kuliner khas Bantul. Karena warung-warung itu adalah bagian dari ekonomi pariwisata.
Pariwisata di Kabupaten Bantul itu bisa tumbuh karena adanya warung-warung kuliner yang banyak sekali yang menjajakan makanan tradisional. Maka harus bangga menjadi orang Bantul. “Kami juga bangga karena memiliki kebudayaan kuliner yang dikenal dan disukai masyarakat," tandasnya. (ayu/din).
Editor : Din Miftahudin