RADAR JOGJA - Harga tanah tertinggi di Bantul berada di tiga kapanewon. Khususnya wilayah aglomerasi yang berbatasan dengan wilayah perkotaan DIY. Seperti Kapanewon Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Harga tanah per meternya kini mencapai Rp 6 juta.
Kepala Bidang Pelayanan dan Penetapan Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah Bantul Anggit Nur Hidayat menyampaikan, harga tertinggi berada di sekitar Jalan Gedongkuning. Jika tanah berada di kawasan Jalan Bantul, per meter dihargai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta.
Namun harga ini, adalah tanah yang berada di pinggir jalan. Bukan di area perkampungan yang tentunya harganya akan turun. “Disesuaikan dengan lokasi, bentuk dan kontur tanah, hingga luasan tanah,” bebernya Rabu (22/5).
Sedangkan harga tanah di luar tiga kapanewon aglomerasi, per meternya hanya sekitar Rp 1,5 juta. Bahkan di kawasan Dlingo, masih ada tanah yang dijual Rp 300 ribu per meter. Penilaian harga tanah tersebut berdasarkan lokasi dan kondisi tanah yang dijual.
Anggit menegaskan, harga jual properti tanah itu cenderung naik atau meningkat. Namun dia tidak dapat menghitung secara pasti presentase peningkatannya.
Namun dia memastikan, harga tanah dalam sejarah di Bantul belum ada yang mengalami penurunan nilai jual. Saat ini, ada kenaikan harga tanah di kawasan pesisir Bantul. Sebab adanya pembangunan JJLS. "Penawaran di tepi JJLS itu sekarang Rp 1 juta lebih. Padahal dahulu hanya Rp 300 ribu," lontarnya.
Sepanjang Januari-Mei, sudah sekitar lima ribuan transaksi jual-beli tanah di Bantul. "Paling tinggi pasti di Desember. Kalau awal tahun begini fluktuatif," ungkapnya.
Sementara itu, konsumen properti di Bantul Ana Bela Sari membeli rumah subsidi di kawasan Guwosari, Pajangan, Bantul. Perempuan 34 tahun itu sudah sekitar setahun tinggal di lokasi tersebut. Dia menempati rumah dengan dua kamar karena harga yang terjangkau. "Saya dulu beli Rp 150 juta, kredit 20 tahun. Per bulannya sekitar Rp 1 juta," rincinya. (rul/eno)
Editor : Satria Pradika