Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pandai Besi di Bantul Sulit Mencari Penerus, Karangasem Sempat Jadi Home Industri dengan Banyak Perajin

Khairul Ma'arif • Jumat, 17 Mei 2024 | 03:40 WIB
TRADISIONAL: Sarjono, salah seorang pandai besi di Dusun Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul dibantu sejumlah pekerjanya membuat pisau, sabit, dan lainnya menggunakan peralatan tradisional.
TRADISIONAL: Sarjono, salah seorang pandai besi di Dusun Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul dibantu sejumlah pekerjanya membuat pisau, sabit, dan lainnya menggunakan peralatan tradisional.


RADAR JOGJA - Dusun Karangasem, Gilangharjo, Pandak, Bantul pernah menjadi home industri karena banyak warganya yang menjadi pandai besi. Masa keemasannya terjadi pada 1970-an hingga 1980-an. Tetapi, seiring berjalannya waktu jumlahnya semakin menurun.


Penurunan terjadi mulai memasuki 2000-an. Hingga sekarang hanya menyisakan sedikit home industri dusun ini. Rumah-rumah yang berjejer sekarang sudah semakin minim yang masih mempertahankan profesi sebagai pandai besi. Salah satu faktornya adalah masalah regenerasi.


Satu di antara yang masih tersisa adalah Sarjono. Dia dibantu tiga pekerja yang tidak pernah berganti-ganti selama 24 tahun. Menjadi pande besi merupakan pekerjaan warisan dari orang tuanya dan diteruskannya hingga sekarang. “Saya generasi kelima meneruskan dari mbah canggah yang dahulu sudah memulai,” katanya, Kamis (16/5).


Dia mengaku, sekarang mulai sulit mencari penerus. Bahkan ketika sudah beberapa tahun berlalu dengan berbagai upaya dari dinas terkait tetap saja tidak menumbuhkan minat untuk generasi muda menjadi pandai besi. Kemungkinan dirinya menjadi generasi terakhir pande besi di keluarganya. Itu lantaran anaknya yang semuanya perempuan dipastikan tidak lagi meneruskan usaha tersebut.


Diakuinya, Dinas Kebudayaan, Paniradya Keistimewaan, kalurahan dan pemkab sudah turun tangan. Tetapi, tetap saja tidak menarik minat kalangan muda untuk menjadi pandai besi.

Menurutnya, agar pandai besi tetap ada penerusnya di Karangasem harus ada yang memiliki alat-alat yang lebih canggih. Misalnya memiliki mesin tempa yang semihidrolis itu sangat dapat membantu pekerjaan.

“Kemungkinannya dengan dibantu alat tersebut anak muda sekarang berminat menjadi pandai besi,”ujar pria 62 tahun itu.
Tidak hanya perihal penerus, sekarang konsumen dari pande besi pun menjadi persoalan baru. Menurut Sarjono, memang ketika hendak Idul Adha seperti sekarang jumlah penjualannya meningkat 100 persen.(rul/din)

Editor : Satria Pradika
#karangasem #Sabit #tradisional #Home industri #pandai besi #pisau