BANTUL - Sepanjang 2024, sebanyak 41 bangunan sekolah di Kabupaten Bantul mengalami kerusakan.
Mayoritas penyebabnya, bangunan sekolah sudah termakan usia.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Nugroho Eko Setyanto mengatakan, jumlah sekolah rusak tersebut terdata dari hasil kajian kerusakan.
Menurutnya, mayoritas yang mengalami kerusakan yaitu bangunan sekolah SD.
Sekolah rusak merupakan pro rehablitasi karena usianya sudah lama.
"Mayoritas rusak ringan. Termasuk plafon yang perlu diganti, kayu-kayu yang perlu diganti, dan toilet-toilet yang perlu diperbaiki seperti itu," katanya, Kamis (2/5/2024).
Namun, secara umum masih dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Menurutnya, untuk mengantisipasi kerusakan yang bisa berdampak negatif pada pelaksanaan pembelajaran di sekolah, maka ini menjadi perhatian serius.
Nugroho menyebut, sepanjang 2024 sejumlah sekolah sudah ada yang diperbaiki. Namun, Nugroho tidak mengetahui secara pasti jumlah spesifiknya.
"Diperkirakan sudah sekitar 10 sekolah yang diperbaiki sepanjang 2024," sebutnya.
Pihaknya tak memungkiri jika perbaikan sekolah rusak terdapat keterbatasan dana.
"Sehingga setiap tahun harus kami usulkan terutama melalui DAK (dana alokasi khusus)," imbuh Nugroho.
Apalagi saat ini memasuki musim pancaroba, hal ini tak luput dari perhatiannya.
Musim pancaroba menjadi kekhawatiran sendiri, hujan dan angin kencang dikhawatirkan membahayakan KBM di sejumlah gedung sekolah.
Nugroho mengaku, sudah mempetakan untuk kondisi tersebut sehingga KBM dapat kondusif.
Untuk kondisi ruang kelas yang rusak, KBM nantinya akan berpindah ke ruang kelas yang lebih layak.
Disebutkan pada 2024 anggaran Dindikpora Bantul mencapai sekitar Rp 700 miliar. Jumlah tersebut diperuntukkan tidak hanya untuk perbaikan sekolah, namun pada seluruh kegiatan.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menambahkan, sekolah-sekolah yang rusak perencanaannya belum jadi karena laporannya urung rampung.
Namun, menurutnya dana untuk perbaikannya sudah tersedia melalui belanja tidak terduga (BTT).
"Tahun ini pasti selesai," tegasnya.
Setiap sekolah yang mengalami kerusakan harus melaporkan secara detail.
Itu untuk menyusun rencana anggaran belanja (RAB) berdasarkan laporan sekolah bagian mana saja yang rusak.
Nantinya akan dikonsultasikan berdasarkan kerusakan yang ada membutuhkan anggarannya seberapa dan menyusun pembuatan RAB-nya.
Dia menyampaikan, perbaikannya akan menggunakan belanja tidak terduga yang akan dikeluarkan Pemkab Bantul.
Itu karena kerusakan terhadap sekolah merupakan kejadian yang tidak direncanakan.
Dengan begitu, gedung sekolah yang mengalami kerusakan segera dapat tertangani. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva