Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Migrasi, Penyu Lekang Mulai Mendarat dan Bertelur di Pesisir Bantul

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 20 April 2024 | 00:51 WIB
MAGNET WISATA: Meski hari biasa, para pengunjung tampak memadati kawasan Concourse, Kompleks Candi Borobudur.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
MAGNET WISATA: Meski hari biasa, para pengunjung tampak memadati kawasan Concourse, Kompleks Candi Borobudur.(Naila Nihayah/Radar Jogja)

BANTUL – Kawanan penyu lekang yang sedang migrasi mulai mendarat di kawasan pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Terutama di kawasan Pantai Goa Cemara, Bantul.

Beberapa dari penyu tersebut menetaskan telurnya di pesisir pantai sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

Sekretaris Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi Penyu Bantul Fajar Subekti menjelaskan, hingga saat ini sudah ada dua ekor penyu lekang yang mendarat di Pantai Goa Cemara.

Hal itu didasari dari dua sarang yang ditemukan pihaknya.

“Dua induk yang mendarat di akhir bulan puasa bertelur 80 butir, lalu H+3 lebaran ada 86 butir telur. Ramai sekitar sebulan lagi,” jelasnya, Jumat (19/4/2024).

Ratusan telur itu telah dievakuasi untuk dipindah ke tempat yang lebih aman agar bisa menetas dengan baik.

Setelah menetas, anak penyu atau tukik akan kembali dilepasliarkan ke laut.

Fajar mengatakan, masa pendaratan penyu yang bermigrasi di pesisir selatan Jogja dimulai pada bulan April hingga September 2024.

Namun, ia tidak bisa memastikan berapa jumlah populasi penyu lekang di alam liar.

Sebab, hewan dengan nama latin Lepidochelys olivacea itu memiliki wilayah teritori yang luas. Mencapai 3 ribu mil.

Dari Samudra Hindia hingga ke perairan Indonesia bagian timur atau Australia.

“Karena kami hanya bisa menghitung yang mendarat dan menetas. Di pantai selatan Bantul ada di Pantai Goa Cemara, Pantai Pelangi, Pantai Samas, dan Pantai Baru,” ujarnya.

Pada setiap musim migrasi, induk penyu berada di perairan dangkal di selatan Jogja.

Dalam satu musim migrasi, satu betina bisa naik untuk bertelur sebanyak satu sampai tiga kali.

Fajar mengungkapkan, pihaknya rata-rata mendapati 40 hingga 70 sarang dalam satu musim.

“Jadi, kemungkinan tidak sampai 50 ekor induk dewasa. Yang pejantan kami tidak bisa hitung karena tidak pernah naik ke permukaan,” kata Fajar.

Ia menyebut, telur-telur penyu yang menetas di pesisir Bantul jumlahnya mengalami kenaikan.

Menurut Fajar, sejak 2011 hingga 2019, jumlah telur yang menetas meningkat.

Di awal hanya berjumlah 1.500 butir. Hingga akhirnya mampu memecahkan rekor dengan menetaskan lebih dari 4 ribu ekor pada 2021.

“Kalau 2022 sampai 2023 cenderung stagnan di angka sekitar 3.600 sampai 4.000 telur,” jelas Fajar.

Namun menurutnya, populasi penyu lekang di alam liar cenderung mengalami penurunan.

Sebab, setiap musim migrasi, pihaknya menemukan rata-rata satu hingga tiga ekor penyu yang mati.

Kebanyakan mati karena mikroplastik dan sampah-sampah kecil dari kota yang masuk ke sungai lalu ke laut. Hingga dimakan oleh penyu atau anaknya kemudian mati.

“Suplai sampah plastik kalau di Jogja selatan terbanyak dari Kali Opak dan Progo,” tuturnya.

Fajar menjelaskan, saat menemukan bangkai penyu, pihaknya turut mengecek kondisi tubuh bangkai penyu tersebut. Termasuk organ tubuh penyu.

Banyak ditemukan sampah bungkus makanan pabrikan plastik, bungkus shampo dan tutup pasta gigi.

“Jangkauan patroli kami lima kilometer, nggak tahu yang mati di luaran sana berapa. Teritori penyu cukup jauh, saya rasa hampir semua jalur migrasi penyu nggak ada yang bersih, kecuali mungkin Indonesia timur,” ucapnya.

Terkait proses penetasan telur penyu, Fajar menjelaskan bahwa pihaknya berpatroli untuk menemukan posisi sarang.

Jika tidak ada potensi gangguan atau ancaman bagi telur, maka akan dibiarkan dan ditandai.

Namun jika ada potensi gangguan atau ancaman abrasi, predator, atau lalu lalang manusia, maka telur akan dipindahkan.

“Tugas kami hanya mengawal induk penyu ketika mendarat. Intinya kami jamin keamanannya sampai selamat kembali ke laut. Kami jamin potensi tetas dari telur penyu untuk bisa menetas secara maksimal,” katanya.

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta Lukita Awang mengatakan, persentase keberhasilan penetasan telur penyu lekang setiap musimnya cukup tinggi sekitar 80 persen.

Menurutnya, ada berbagai faktor yang mempengaruhi penetasan penyu lekang.

“Ada banyak faktor, antara lain perubahan suhu dan ketinggian ombak,” jelasnya.

Menurutnya, suhu yang cocok untuk penetasan telur penyu lekang sekitar 29 hingga 32 derajat Celcius.

Sementara kelembaban sarang semi alami penyu lekang sekitar 67 sampai 80 persen. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#migrasi #Goa Cemara #penyu #Yogyakarta #lekang #pesisir selatan #daerah istimewa #pantai