Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peternakan Fokus Pembibitan, Kebutuhan Daging Bantul dari Luar Daerah

Gregorius Bramantyo • Sabtu, 13 April 2024 | 15:00 WIB
SEHAT: Sapi di peternakan sapi wilayah Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (13/3).
SEHAT: Sapi di peternakan sapi wilayah Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (13/3).

RADAR JOGJA – Peternakan di Bantul saat ini hanya fokus untuk pembibitan, bukan penggemukan. Hal itu menyebabkan daging yang ada di Bantul berasal dari luar kota atau daerah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengatakan, Bantul memiliki tempat pemotongan sapi dan kambing yang cukup besar. Setidaknya ada sekitar 30 tempat pemotongan yang setiap hari beroperasi. Sehingga ada sekitar 50-60 ekor sapi yang dipotong di Bantul per hari.

“Tapi pemotongannya banyak di rumah, karena RPH (Rumah Pemotongan Hewan) kecil,” ujarnya.

Dia menyampaikan, pemotongan hewan ternak jenis domba dan kambing juga cukup tinggi. Pemotongan domba dan kambing itu sendiri sekitar 700-800 ekor.

Joko menambahkan, peternakan di Bantul hanya menerapkan pola pembibitan, bukan penggemukan. Artinya, setiap peternak hanya memiliki sapi betina yang diternakkan untuk menghasilkan anak sapi.

“Karena di Bantul itu pembibitan, sehingga anak sapinya ada sekitar 70 ribu. Anak sapi ini di umur 5-10 bulan kemudian dijual,” jelasnya.

Oleh karena itu, semua kebutuhan daging di Bantul sepenuhnya diimpor dari luar daerah. Baik itu dari kabupaten atau kota yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta atau pun dari kota lainnya. “Apalagi, kemampuan peternak kita itu baru memelihara satu sampai dua ekor sapi saja,” ucap Joko.

Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul mencatat bahwa pasokan stok daging di pasar yang berada di Bantul sudah ditangani oleh komunitas. Sehingga kebutuhan daging di setiap pasar tersebut diprediksi bisa mencukupi kebutuhan konsumen. “Sebetulnya untuk pemantau daging itu sudah ada komunitasnya. Komunitas tersebut sudah berusaha supaya jangan sampai terjadi kekurangan pasokan di pasar,” kata Plt Kepala DKUKMPP Bantul Husin Bahri.

Menurutnya, hal serupa juga terjadi pada aspek harga. Semuanya sudah dikoordinasikan oleh komunitas. Sehingga kondisi ini akan membuat kesamaan harga dari para pedagang yang berada di pasar-pasar di Bantul. “Kalau ada kenaikan pasti dikoordinasikan oleh semua komunitas. Jadi tidak mungkin orang jual berbeda-beda harganya,” ujar Husin. (tyo/eno)

 

 

 

 

 

Editor : Satria Pradika
#Peternakan di Bantul #Kepala Dinas DKPP