Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dwi Nuryanto Memanfaatkan Kayu Krowak untuk Berkarya, Sepekan Bisa Empat Order, Ada dari Dubai dan Korsel

Khairul Ma'arif • Sabtu, 13 April 2024 | 13:00 WIB
KREATIF: Dwi Nuryanto saat berkarya dan sejumlah hasil karya yang masih dalam pembuatan. Ia memanfatkan kayu krowak untuk menuangkan ide seninya.
KREATIF: Dwi Nuryanto saat berkarya dan sejumlah hasil karya yang masih dalam pembuatan. Ia memanfatkan kayu krowak untuk menuangkan ide seninya.


RADAR JOGJA - Cerita Dwi Nuryanto dimulai pada 2012 ketika belajar otodidak membuat berbagai furnitur rumah tangga dan interior pendukungnya. Tidak menggunakan kayu utuh rapi, tetapi justru kayu krowak atau yang mengalami erosi alami. Bahkan kadang dengan kayu terbelah. Tak dinyana, idenya itu membawa usahanya hingga pasar luar negeri.

KHAIRUL MA’ARIF, Bantul

Bermodalkan lahan di samping rumahnya, Dwi Nuryanto, 37 bersama empat pekerjanya membuat berbagai macam furnitur dan interior rumah. Dia juga membuat sejumlah hiasan atau ornamen yang bisa digunakan di ruang-ruang dalam rumah. Serat dan potongan kayu berserakan, seakan menandakan banyak produksi yang dihasilkan dari tangannya.


Tidak hanya memanfaatkan kayu atau triplek yang normal pada umumnya. Dwi juga memanfaatkan kayu krowak atau yang mengalami erosi alamiah untuk menghasilkan karyanya. Biasanya kayu krowak disulapnya menjadi nampan, meja, ataupun bangku. Baik untuk hiasan atau difungsikan sebagaimana mestinya.


Pekerjaannya itu yang dijadian sandaran untuk membiaya kehidupan sehari-hari untuk diri sendiri, anak dan istrinya. Kerajinan yang dibuatnya sudah memiliki pasar sendiri. Sejumlah daerah di luar DIJ, bahkan sampai Dubai pun pernah membeli kerajinan yang dibuat Dwi.


"Konsumen saya biasanya order dulu melalui WhatsApp. Banyaknya pesanan custome sehingga desain dari ide pemesannya," katanya kepada Radar Jogja, Kamis (4/4). Menurutnya, selama ini dia jarang memasarkannya secara rutin di media sosial (medsos).


Namun, terkadang hasil kerajinan yang dibuatnya dari pemesan diunggah ke Facebook atau Instagram. Oleh karena itu, dia tidak pernah stok kerajinan kayu krowak yang dibuatnya, hanya berkarya ketika ada yang memesan. Meski begitu, Dwi mengaku setiap pekannya selalu ada yang memesan. Bahkan bisa tiga sampai empat order.


Mulai lima tahun terakhir banyak yang mengajaknya bekerja sama untuk memasarkan karyanya. Kondisi itu membuat permintaan terhadap kerajinan kayu krowak yang dihasilkan sudah meningkat. Meski harganya semakin meningkat setiap tahunnya.


Kerajinan kayu krowak yang dibuatnya sudah ke seluruh penjuru Pulau Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Bahkan belum lama dia sudah mengirim ke Dubai dan Korea Selatan yang beli secara langsung. "Barangnya saya packing, nanti pengirimannya oleh pembeli saya sendiri," ucapnya.


Omzet yang didapatkan cukup lumayan dari hasil kerajinannya. Namun, kata Dwi, ia tidak pernah menghitung secara pasti omzetnya. Tetapi diperkirakan omzet kotor dalam sebulan Rp 60 juta-Rp 80 juta. Untuk omzet bersihnya tidak dapat dipastikan.


Meski begitu, proses yang dijalaninya tidak mudah dan tidak langsung seperti kondisi sekarang. Dia pernah mengalami proses mendaki untuk mencapai pada titik sekarang.
Dwi membeberkan, pekerjaanya membuat kerajinan kayu krowak belajar secara otodidak. Dia rutin melihat video-video Youtube dan belajar selama hampir tiga tahun.


Namun belajar dari Youtube tidak melulu sesuai karena bahan yang digunakan biasanya berbeda-beda. "Setelah tiga tahun barulah kualitasnya bagus dan pembelinya semakin bertambah,” ungkapnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Medsos #Kayu Krowak #Bantul #furnitur rumah