RADAR JOGJA – Media sosial (medsos) bisa membawa dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya medsos menjadi peluang untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.
”Semakin banyak pengikutnya di medsos banyak pihak juga akhirnya ingin bekerja sama,” jelas Beni Sasangka, praktisi sekaligus pegiat medsos saat menjadi pemateri dalam program Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika yang diselenggarakan secara daring Jumat (5/4).
Ya, kepala bidang adat, tradisi, lembaga budaya dan seni Kundha Kabudayaan Bantul ini memang aktif di akun medsosnya. Terutama Instagram. Beni, sapaan karibnya saban hari rajin mengunggah berbagai konten kuliner. Terutama kudapan khas yang dijajakan di berbagai daerah di DIY.
Misalnya, tempe benguk, cireng, geblek, hingga tongseng. Saking aktifnya, jumlah pengikutnya mencapai 128 ribu.
”Medos bisa menjadi alat yang tepat bagi mereka untuk mengekspose kegiatan-kegiatan positif yang disukai masyarakat,” ucapnya.
Selain menghasilkan pundi-pundi rupiah, berbagai unggahan itu juga sekaligus mempromosikan berbagai kudapan dan kuliner para pelaku UMKM. Karena itu, pria yang tinggal di Kapanewon Sedayu ini meminta para pelajar memanfaatkan medsos dengan bijak.
Sebaliknya, Beni mengingatkan medsos bisa berdampak buruk jika tidak digunakan secara tepat. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah agar melakukan pengawasan melalui lembaga pendidikan.
”Saya kira ini menjadi perhatian bagi stakeholder agar penggunaan internet bisa lebih maksimal lagi," ujarnya.
Mewakili bupati, Kepala Diskominfo Bantul Bobot Ariffi Aidin mengatakan, program literasi digital sejalan dengan visi-misi pemkab dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang unggul berkarakter dan berbudaya istimewa.
Bobot juga berpendapat, pendidikan merupakan fondasi penting untuk berbagai kegiatan di era digital. Pendidikan merupakan bagian integral dari kegiatan itu sendiri.
”Semuanya terlibat dalam dunia digital dalam tingkatan yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan literasi digital yang mereka miliki adalah yang positif, kreatif dan aman," ingatnya.
Ada sekitar 25 ribu peserta yang mengikuti kegiatan program literasi digital ini. Mereka siswa SMP di Kabupaten Bantul. Salah satunya Khila. Siswa SMP 1 Piyungan ini menyebut, literasi digital sangat diperlukan pelajar. Agar siswa dapat kreatif sekaligus aman di dunia digital.
Selain Beni, ada beberapa narasumber lain. Yakni, Miss Hijab Pendidikan Indonesia dan Kepala Disdikpora Bantul Nugroho Eko Setyanto. (zam)
Editor : Satria Pradika