BANTUL – Tahap pekerjaan konstruksi Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 23 atau Jalan Baru Kretek-Girijati telah mencapai 20 persen.
Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan tidak menjadi hambatan dalam pekerjaan konstruksi.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Satker PJN DIY Ridwan Subarkah mengatakan, perkembangan pekerjaan konstruksi tersebut telah melampaui target.
Sebelumnya ditargetkan hingga pertengahan Maret pembangunan tersebut mencapai sekitar 18 persen.
Saat ini pekerjaan konstruksi yang telah dilakukan berupa pembukaan jalan sekitar lima kilometer dari keseluruhan panjang jalan 5,64 kilometer.
Sementara sisanya sekitar 0,6 kilometer yang berada di eksisting masih belum dikerjakan.
Lantaran masih digunakan oleh pengguna jalan. Saat ini ada 17 unit box saluran drainase yang telah dikerjakan dari total 31 box.
“Kemudian jembatannya menggunakan bore pile, itu juga sudah selesai. Saat ini pekerjaan lainnya galian dan timbunan,” ujarnya, Rabu (20/3).
Jembatan tersebut nantinya akan menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan ruas jalan tersebut.
Jembatan itu akan dibangun dengan dua bentang. Panjang jembatan tersebut mencapai 53,3 meter dengan ketinggian 12 meter di STA 1+950.
Subarkah mengakui, kondisi lahan JJLS Kelok 23 yang cukup ekstrim menjadi tantangan tersendiri dalam pekerjaan konstruksi di lokasi tersebut.
Ada tikungan yang berjarak sekitar 200 meter dari Jalan Parangtritis. Sehingga di titik tersebut trasenya sudah mulai berkelok.
“Perbedaan elevasinya hampir 100 meter, medannya cukup sulit. Jadi ada struktur untuk penguatan jalan tersebut. Pembuatannya perlu metode lain daripada kami mengerjakan di tempat yang datar,” katanya.
Karena lahan yang dikerjakan dinilai cukup sulit, struktur jalan tersebut akan dibuat aspal dua lapis dengan lapis pondasi agregat kelas A (LPA) dengan AC-WC 4 cm dan AC-BC 6 cm.
Kemudian ketebalan timbunan 40 sentimeter dan galian 20 sentimeter.
Sementara menurut Subarkah, cuaca ekstrem yang terjadi belakangan tidak menjadi halangan dalam pekerjaan konstruksi proyek tersebut.
Ia mengungkapkan, selama musim hujan beberapa alat berat yang digunakan untuk pekerjaan konstruksi tersebut mengalami kendala.
Lantaran akses masuk ke proyek tersebut masih tanah.
Meski begitu, ia menilai cuaca ekstrem saat ini jauh lebih baik daripada yang terjadi pada kisaran Januari-Februari 2024 lalu.
Saat itu, menurutnya, cuaca ekstrem membuat pekerjaan konstruksi kurang optimal.
“Di Maret ini tidak begitu menjadi kendala. Januari intensitas hujan tinggi, jadi kurang optimal dalam pelaksanaan, tetapi masih on track,” jelasnya.
Subarkah mengakui, pekerjaan konstruksi pada Januari hingga Maret 2024 masih sesuai dengan target.
Meskipun cuaca ekstrem terjadi. Sekitar Januari 2024, pekerjaan konstruksi tersebut bahkan melampaui target hingga sekitar enam persen.
Saat itu ditargetkan pekerjaan konstruksi mencapai tujuh persen. Namun realisasinya telah mencapai 12 persen.
Diketahui, durasi pekerjaan konstruksi proyek tersebut mencapai 720 hari kalender atau 24 bulan. Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero).
“Waktu pelaksanaan tidak berubah, tetap malah kalau nanti ada cor akan kami laksanakan malam,” terangnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad