Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inovasi Warga Srandakan Cegah Stunting dengan Kembangkan Usaha Abon Lele Kaya Gizi

Gregorius Bramantyo • Minggu, 10 Maret 2024 | 19:00 WIB

 

 IBU-IBU: Kaum perempuan di Wonotinggal, Poncosari, Srandakan, Bantul mengembangkan usaha pengolahan ikan lele yang dijadikan abon lele. 
 IBU-IBU: Kaum perempuan di Wonotinggal, Poncosari, Srandakan, Bantul mengembangkan usaha pengolahan ikan lele yang dijadikan abon lele. 

RADAR JOGJA - Salah satu upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia adalah dengan konsumsi ikan yang memiliki protein tinggi. Namun tetap dengan harga murah. Salah satunya adalah ikan lele.

Selain harganya yang murah, lele juga mengandung Vitamin B12, DHA dan omega 3. Karena manfaatnya ini, lele menjadi sumber pangan yang populer dalam berbagai macam olahan masakan.

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Padukuhan Wonotingal, Kalurahan Poncosari, Srandakan, Bantul punya cara sendiri dalam mengatasi stunting. Mereka mengembangkan usaha pengolahan abon dari daging ikan lele yang dapat bermanfaat untuk mencegah stunting.

Pengelola UMKM Minarasaku Abon Lele Guritna Candra Dewi mengatakan, olahan ikan lele yang belum begitu ramai di pasaran adalah abon lele. Padahal abon lele berpeluang menjadi sebuah usaha. Maka dari itu, peluang tersebut ditangkap oleh ibu-ibu di Padukuhan Wonotingal yang tergabung ke dalam kelompok UMKM Minarasaku Abon Lele.

Guritna menyampaikan, usaha mengolah lele  menjadi abon berawal dari ibu-ibu di Padukuhan Wonotingal yang ingin agar anak-anaknya gemar mengkonsumsi ikan. Kemudian lele dipilih karena lokasi padukuhan ini dekat dengan sentra budidaya lele. Para ibu di padukuhan ini ingin agar anak-anaknya bisa makan ikan dengan enak. Akhirnya para ibu membuat olahan abon dari lele. "Kalau untuk abon itu kan butuh lele yang besar-besar. Di sekitar sini bahannya ada banyak dan lele itu gizinya juga baik, lemaknya sedikit," kata Guritna saat ditemui, Kamis (7/3).

Ia menjelaskan, ketersediaan bahan yang mumpuni serta kandungan gizi yang baik membuat usaha ini terus berkembang. Pengolahan Ikan Minarasaku Abon Lele saat ini dapat meraih omzet sekitar Rp 5 juta dalam sebulan. Meski baru usaha ini baru dimulai pada Juli 2023 lalu.

Guritna mengungkapkan, untuk satu kali produksi olahan abon lele membutuhkan waktu sekitar lima jam. Lele yang digunakan dalam olahan abon lele merupakan lele berukuran besar. Dengan berat sekitar satu setengah kilogram. Selain itu, kelompok UMKM ini saat ini mampu menyerap tenaga kerja sejumlah 11 perempuan warga Padukuhan Wonotingal. “Karena banyak manfaatnya, ikan lele juga jadi sumber pangan yang cukup populer untuk berbagai macam olahan masakan,” imbuhnya.

Ia mengatakan, produk olahan abon lele dijual dengan harga Rp 25 ribu untuk kemasan 100 gram. Kemudian Rp 13 ribu untuk abon lele kemasan 50 gram. Sementara abon lele curah tanpa kemasan dijual seharga sebesar Rp 195 ribu per kilogram.

"Untuk sementara ini kami produksi hanya seminggu dua kali. Sekali produksi biasanya mengolah bahan baku lele sekitar 70 kilogram. Kemudian untuk pemasaran kami lewat offline dan online, untuk online masih di Jawa," jelas Guritna. (tyo/pra)

Editor : Satria Pradika
#vitamin #lele #Stunting