BANTUL – Jumlah Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Bantul masih minim.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat dari 2.031 satuan pendidikan, baru 278 satuan pendidikan yang sudah tersentuh program SPAB.
Analis Bencana Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bantul Fatah Yudhanti mengatakan, jumlah satuan pendidikan yang telah tersentuh program SPAB di Bantul baru 13,7 persen.
Rinciannya adalah 231 satuan pendidikan dengan SPAB rintisan dan 47 satuan pendidikan dengan SPAB penuh.
"Masih ada kekurangan sekitar 86,3 persen atau 1.753 satuan pendidikan, masih perlu ditingkatkan sekali,” ujarnya, Senin (4/3).
Satuan pendidikan yang telah SPAB adalah tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan 135 SD yang telah SPAB.
Selain itu, belum semua satuan pendidikan di daerah rawan bencana tersentuh program tersebut.
Hanya saja ada beberapa sekolah yang sudah pernah melakukan kegiatan pelatihan atau mendapatakan sosialisasi. Baik dari BPBD, perguruan tinggi atau pihak lain.
Fatah menjelaskan, di tahun 2024 sendiri pihaknya hanya mendampingi pembentukan SPAB penuh di dua sekolah.
Yakni, SMPN 1 Sanden dan SMPN 2 Srandakan pada Senin (26/2) kemarin. Dua satuan pendidikan tersebut berada di daerah rawan tsunami.
Walaupun tingkat kerawanannya sedang, baru mendapatkan SPAB penuh di tahun ini.
“Masih banyak sekolah lain yang belum mendapatkan program ini. Kami sedang proses menggenjot untuk program SPAB ini, meskipun kondisi keterbatasan anggaran,” ungkapnya.
Diakui, keterbatasan anggaran tersebut membuat BPBD Bantul hanya meresmikan pembentukan dua SPAB penuh di tahun 2024.
Anggaran dari APBD di tahun ini sekitar Rp 35 juta lantaran anggarannya sedang ditekan.
Jika anggaran yang ada cukup longgar, anggaran untuk satu satuan pendidikan bisa berkisar antara Rp 50 juta sampai Rp 80 juta.
Meski begitu, BPBD Bantul saat ini sedang mendampingi satu satuan pendidikan yakni SMPN 3 Pleret yang mengajukan SPAB secara mandiri. Menggunakan dana dari sekolah.
“Mekanismenya banyak, anggaran bisa dari BPBD, sekolah atau dari pihak ketiga seperti LSM atau perguruan tinggi,” kata Fatah.
Ia menjelaskan, ada 10 indikator dalam penilaian SPAB. Jika seluruh indikator tersebut terpenuhi, makah satuan pendidikan mendapatkan status SPAB penuh.
Sementara SPAB rintisan adalah satuan pendidikan setidaknya sudah memenuhi lima indikator tersebut.
Sepuluh indikator tersebut adalah meningkatnya pengetahuan warga sekolah mengenai satuan pendidikan aman bencana, memiliki konstruksi yang memenuhi standar bangunan tahan gempa, memiliki sarpras, dan terkumpulnya informasi mengenai risiko, ancaman, dan kapasitas.
Kemudian memiliki kebijakan sekolah aman bencana, memiliki prosedur tetap, memiliki tim siaga bencana, serta memiliki peta dan jalur evakuasi.
“Lalu terpasangnya media kampanye dan melakukan simulasi secara rutin,” ucap Fatah.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Titik Sunarti Widyaningsih mengatakan, SPAB dirasa urgen karena Bantul merupakan daerah rawan bencana.
Baik tsunami, kebakaran, kekeringan, dan banjir. Maka dari itu, para pelajar harus dilatih dan disimulasikan untuk siap menghadapi bencana setiap saat.
"Maka SPAB menjadi urgen supaya warga sekolah memahami apa yang harus dilakukan. Mitigasi bencana sebelum, saat terjadi, maupun sesudah,” ujarnya.
Sementara kendala yang dihadapi adalah terbatasnya fasilitator di BPD untuk sekolah-sekolah. Jumlah personel yang terbatas tak sebanding dengan jumlah satuan pendidikan yang banyak.
Kendala dari sekolah pun tidak hanya simulasi saja. Namun juga terkait pembuatan dokumen SPAB.
“Ini tentu membutuhkan sumber daya dan perencanaan yang matang. Baik di anggaran maupun di pelaksanaannya,” jelas Titik.
Ia menjelaskan, saat ini sedang proses pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) di Bantul yang melibatkan organisasi perangkat daerah terkait.
Selain itu, Disdikpora bersama BPBD juga bekerja sama dalam membuat Peraturan Bupati Nomor 14 Tahun 2022 tentang Pendidikan Aman Bencana pada Satuan Pendidikan.
"BPBD menjadi fasilitator untuk sekolah-sekolah dalam simulasi maupun pendamping untuk pembuatan dokumen SPAB,” tandas mantan kepala SMPN 1 Pandak ini. (tyo)
Editor : Amin Surachmad