BANTUL – Kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan diprediksi akan penuh pada April 2024.
Karena itu, Pemprov DIY berharap langkah konkret dari kabupaten dan kota untuk segera melakukan pengolahan sampah.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, Pemkab Bantul berupaya mempercepat proses sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk beroperasi.
Selain itu, juga berusaha menekan sumber timbulan sampah.
Kemudian mengaktivasi rumah-rumah pilah di setiap padukuhan yang sudah diberikan suntikan dana Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Padukuhan (PPBMP) sebesar Rp 50 juta.
“Jadi kami optimistis saat di bulan April TPA Piyungan ditutup,” ujarnya kepada wartawan di Pasar Niten, Selasa (27/2).
Halim menekankan pemerintah kalurahan untuk menggencarkan aktivasi rumah pilah. Sebab, menurutnya, rumah pilah bisa menghasilkan pendapatan.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai sumber daya ekonomi baru. “Biarlah rumah pilah itu banyak tidak apa-apa, wong itu bisnis kok,” katanya.
Selain itu, ia meminta penggunaan dana PPBMP tersebut harus efektif untuk menangani sampah.
Jika tidak, nantinya dikhawatirkan akan ada problem baru yang cukup serius di masyarakat.
Terkait pengawasan dana tersebut, Inspektorat Daerah Bantul dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Bantul selalu meminta pertanggungjawaban dana tersebut ke kalurahan.
Pemkab Bantul sendiri saat ini sedang fokus untuk mengatasi sampah. Maka dana PPBMP itu semuanya harus digunakan untuk penanganan sampah.
“Sampah jadi prioritas sampai tuntas,” tegas Halim.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo mengatakan, desentralisasi pengolahan sampah diharapkan dapat selesai di tingkat kabupaten/kota.
Sesuai dengan kebijakan dari gubernur DIY. “Harapannya di akhir April kabupaten dan kota sudah siap kalau TPA Piyungan ditutup,” ucapnya.
Dari hitungan matematis DLHK DIY, kuota di TPA Piyungan penuh pada 15 April 2024. Sementara saat ini sedang dilakukan penataan di sana hingga akhir April.
“Kami tutup 100 persen di awal Mei,” kata Kusno.
Ia menyebut, Kabupaten Bantul sebenarnya masih memerlukan penambahan TPST dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reusr Recycle (TPS3R).
Kedua tempat pengolahan itu dinilai dapat menjadi unit usaha produktif dan menjadi nilai tambah kepada masyarakat.
Sementara beberapa TPST di Bantul baru bisa siap beroperasi pada sekitar September 2024.
“Jumlahnya diperbanyak akan lebih baik,” ujarnya.
Saat ini kuota sampah di TPA Piyungan sebesar 370 ton per hari. Di mana kuota sampah dari Kabupaten Bantul sebesar 85 ton per hari. Akan dikurang lima ton pada Maret 2024.
Sementara kuota sampah dari Kota Jogja sebesar 145 ton per hari dan Kabupaten Sleman 140 ton per hari. (tyo)
Editor : Amin Surachmad