Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

ITF Niten di Bantul Diresmikan, Bisa Hasilkan Produk untuk Sektor Ekonomi

Gregorius Bramantyo • Selasa, 27 Februari 2024 | 23:19 WIB
EFEKTIF: Petugas sedang mengolah sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Niten, Bantul, Selasa (27/2).
EFEKTIF: Petugas sedang mengolah sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Niten, Bantul, Selasa (27/2).

BANTUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul meresmikan fasilitas pengolahan sampah dengan konsep Intermediate Treatment Facility (ITF) di kawasan Pasar Niten, Selasa (27/2).

Fasiltias itu memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga lima ton per hari.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Ari Budi Nugroho mengatakan, ITF Pasar Niten didesain untuk mengolah sampah dari pasar rakyat yang dikelola oleh Pemkab Bantul. Termasuk, salah satunya adalah Pasar Niten.

Dalam operasionalnya, ITF Niten menampung sampah dari pasar-pasar besar di Bantul. Seperti Pasar Bantul, Pasar Pasar Piyungan dan Pasar Pijenan di Pandak.

Kemudian Pasar Imogiri serta sejumlah pasar yang sampahnya belum terkelola.

"Dari sisi kapasitas itu maksimal lima ton satu hari, juga dari sisi produk. Di sini untuk mengolah sampah pasar karena banyak sampah organiknya seperti sisa sayuran dan buah-buahan, juga sampah warung-warung," katanya kepada wartawan, Selasa (27/2).

ITF Niten sendiri dibangun pada 2023 melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bantul dengan dana sebesar Rp 3 miliar.

Fasilitas pengolahan sampah ini diproyeksikan mampu menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan untuk sektor ekonomi lainnya.

Hasilnya berupa pilahan anorganik laku jual, organik kompos untuk pertanian, dan residu organik maupun anorganik sebagai bahan bakar pengganti atau refused derived fuel (RDF).

Peralatan di ITF Niten terdiri dari satu set alat pemilahan sampah dan 12 rotary kiln untuk pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Secara teknis, sampah pasar masuk ke mesin dan naik ke pemilah manual. Nantinya akan dipilah sampah yang memiliki nilai jual. Seperti botol plastik dan sebagainya.

Selanjutnya sampah masuk ke mesin cacah pilah untuk memilah sampah plastik dan organik.

Nantinya sampah plastik akan masuk mesin press dan siap untuk dijual.

Sedangkan untuk sampah organik yang masuk ke rotary kiln diberi aktivator EM4. Dalam lima hari sampah organik bisa menjadi pupuk kompos.

Mesin rotary kiln sendiri berputar secara otomatis setiap 12 jam.

Ari menjelaskan, peresmian ITF Niten ini sebagai bagian dari Hari Peduli Sampah Nasional 2024 dengan tema Atasi Sampah Plastik dengan Cara Produktif.

Tema tersebut dilatarbelakangi masalah sampah plastik yang menjadi persoalan serius.

“Tujuannya adalah untuk memperkuat komitmen dan peran aktif seluruh pemangku kepentingan tingkat daerah dalam mengatasi sampah plastik dan polusi plastik,” ujar mantan kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul ini.

Kemudian untuk memperkuat partisipasi dan kesadaran publik dalam upaya pengelolaan sampah dari sumber melalui gerakan memilah dan mengolah sampah di sumbernya.

Selain itu juga memperkuat komitmen dan peran aktif produsen dan pelaku usaha lainnya dalam implementasi ekonomi sirkular dan bisnis hijau.

“Dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi dan membangun rantai nilai pengelolaan sampah di seluruh sektor," imbuh Ari.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan, Pemkab Bantul saat ini sedang mengejar capaian kinerja pengelolaan sampah di Bantul.

Dia ingin Bantul menjadi Kabupaten bersih dari sampah pada 2025.

"ITF Niten mampu mengolah sampah organik dan anorganik. Nanti yang organik menjadi pupuk kompos dan yang annorganik menjadi bahan baku RDF,” ucapnya.

Ia menambahkan, Pemkab Bantul kini juga sedang menyelesaikan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Modalan, Banguntapan, yang berkapasitas 50 ton.

Selain itu, juga TPST di Argodadi, Sedayu, dengan kapasitas sekitar 40 ton.

Menurutnya, jika semua TPST di Bantul telah beroperasi secara penuh, Bantul bisa saja ikut mengolah sampah dari luar Bantul.

Halim menyebut banyaknya TPST menjadi industri baru di Bantul yang bisa mendongkrak perekonomian masyarakat.

"TPST di Bantul banyak karena kami pandang sebagai industri, bukan tempat pembuangan sampah. Karena sampah ini jadi sumber daya ekonomi baru, nantinya ini ada uangnya semua,” jelas Halim. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#Pasar Niten #Pemkab Bantul #itf #pengelolaan sampah