RADAR JOGJA – Fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi Intermediate Treatment Facility (ITF) yang dikembangkan di kawasan Pasar Niten, Bantul sudah mulai diujicoba. Tahap uji coba tersebut sudah dimulai sejak awal Februari lalu.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Ari Budi Nugroho mengatakan, saat ini ITF Niten sedang dalam proses persiapan sebelum diresmikan. Meskipun pembangunannya telah usai sejak Desember 2023. “Uji coba ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui karakter sampah,” katanya, kemarin (22/2).
Menurutnya, ITF Niten digunakan untuk mengurangi jumlah sampah sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. ITF Niten mengusung konsep waste to energy dengan dukungan teknologi ramah lingkungan. Hal itu memang baru pertama kali dilakukan di Bantul.
Maka dari itu dalam mengoperasikannya perlu persiapan yang matang. Termasuk melakukan uji coba terlebih dahulu. Sehingga bila terjadi kesalahan maupun kendala dapat dievaluasi dan dibenahi. “Kami juga baru pertama kali ini mengelola sampah seperti ini. Biasane mung dijupuk, ngusung, terus disok ning Piyungan. Sekarang kami mengambil, lalu dipilah dan diolah,” ujar Ari.
Sementara untuk kapasitas, ITF Niten yang dibangun dengan sekitar Rp 3 Miliar itu hanya menampung sekitar lima ton sampah per hari. Sebab ITF Niten memang diprioritaskan untuk menangani sampah dari pasar-pasar yang dikelola Pemkab Bantul. Harapannya tahun ini bisa segera beroperasi secara resmi. Mengingat Pemkab Bantul berkomitmen dalam percepatan pengolahan sampah di tahun ini.
Ari menyebut, keberadaan ITF Niten setidaknya mampu mengurangi kuota sampah dari Bantul yang dikirim ke TPA Piyungan. Sebab pada Maret 2024 mendatang, kuota sampah Bantul yang dikirim ke TPA Piyungan akan dikurangi lima ton, sehingga menjadi 80 ton per hari. “Jadi ini bagian yang harus kami hadapi dan lakukan. ITF Niten paling tidak bisa untuk mengambil nafas sejenak untuk bisa melakukan pengurangan sampah ke Piyungan,” ucapnya.
Koordinator lapangan ITF Niten Gatot Junedi menjelaskan, ada 19 petugas yang saat ini bekerja di ITF Niten pada Senin hingga Sabtu. Sedangkan peralatan yang ada di ITF Niten saat ini adalah rotary kiln, mesin gibrig, mesin press, dan mesin pencacah. “Sudah diuji cobakan selama dua minggu terakhir, nanti rencana akan dilaunching 27 Februari,“ jelasnya.
Ada kendala yang ditemui selama masa uji coba dalam dua minggu terakhir ini. Yakni terkait penanganan sampah yang memiliki kadar air tinggi. “Sampah yang basah atau terlalu lama itu terasa berat untuk masuk ke mesin gibrig. Mesinnya memang bisa jalan tapi agak terbebani,” kata Junedi.
Lurah Pasar Niten Nur Wijaya mengatakan, sebelum ada ITF Niten, sampah di pasarnya sudah dikelola dengan baik. Pedagang dan petugas DLH Bantul melakukan pemilahan sampah yang berasal dari dalam pasar. Kemudian dikirim ke TPA Piyungan. Sampah Pasar Niten sendiri rata-rata sebanyak setengah ton per hari. “Tidak pernah ada masalah karena ada tempat sendiri. Kalau soal sampah kami tidak pernah sampai keteteran,” ungkapnya. (tyo/din)