BANTUL - Pencapaian membanggakan ditorehkan oleh dua mahasiswa Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta Nizar Mohamad Afandi dan Ricky Ibra Aghari Muin.
Mereka berhasil mengikuti program pertukaran pelajar hingga berhasil terlibat dalam pameran yang diselenggarakan di Esztehazy Karoly Catholic University, Hungaria.
Kedua mahasiswa angkatan 2019 tersebut terhitung sejak September 2023 lalu mengikuti program student exchange di Esztehazy Karoly Catholic University, Hungaria, selama satu semester.
Pameran yang mereka ikuti adalah rangkaian dari luaran hasil proses belajar mereka selama di sana.
Ibra menjelaskan, secara umum mereka berdua memang mengikuti serangkaian satu semester penuh yang berlangsung sejak September 2023 hingga Februari 2024.
"Timeline kuliahnya sejak September 2023 dan selesainya pertengahan Februari, sekitar tanggal 10 atau 11," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (10/2).
Ibra mengatakan, dalam prosesnya mereka berdua memang dipilih atau didelegasikan oleh ISI Yogyakarta untuk mengikuti program pertukaran pelajar tersebut.
Disebutnya, Esztehazy Karoly Catholic University Hungaria merupakan salah satu mitra perguruan tinggi asing yang dimiliki ISI Yogyakarta.
"Setiap tahun ISI akan mengirim mahasiswa untuk program student exchage Esztehazy Karoly Catholic University dan sebaliknya. Kerja sama lain yang dilakukan di antaranya pertukaran tenaga pengajar, pameran bersama dan riset bersama," paparnya.
Keberangkatan Nizar dan Ibra untuk mengikuti program student exchange di Esztehazy Karoly Catholic University dibiayai oleh Erasmus+.
ISI Yogyakarta dan Esztehazy Karoly Catholic University telah bermitra dengan Erasmus+, sebagai salah satu lembaga donor di Eropa.
Ini memungkinkan mahasiswa dari kedua perguruan tinggi mengajukan beasiswa untuk pembiayaan kegiatan student exchage yang dilakukan.
"Kalau pertimbangan kenapa kami yang dipilih, sepertinya karena aktivitas kami di kampus dan monitoring dari dosen," lanjut Ibra.
Dalam pameran yang dilangsungkan di Hungaria tersebut, Ibra menampilkan karya drawing di kertas dan mix media seperti menggunakan water colour.
Dalam pameran tersebut, Ibra berhasil menampilkan empat karya dan Nizar menampilkan tujuh karya.
"Karya yang dihasilkan seperti sketsa drawing, mix media, lalu alih media lagi jadi kolase, dari kolase dijadikan 3D," terangnya.
Sementara itu, Nizar membeberkan, ada perbedaan yang cukup siginifikan antara proses berkarya hingga proses belajar yang terjadi di Hungaria dan Indonesia.
Dikatakannya, proses penciptaan karya di luar negeri atau di Hungaria secara spesifik lebih menekankan pada kualitas karya yang terstruktur dengan proses dan jangka waktu pengerjaan yang lama.
Sementara di Indonesia, dari pantauannya, cenderung lebih bebas dan spontan untuk bereksplorasi.
"Proses studi di sini lebih terstruktur, misal di ISI lebih bebas dan spontan sementara di Hungaria lebih terstruktur dan harus jelas sejak awal kuliah mau bikin karya apa," ujarnya.
Ibra maupun Nizar mengaku, secara sosial kultural cukup sama dan tidak ada culture shock yang dihadapi.
Justru l, bhal-hal seperti proses berpikir hingga penciptaan karya yang memang berbeda dengan di Indonesia menjadi hal yang membuat mereka perlu adaptasi lebih.
"Selain itu, bahan baku pembuatan karya di sini lebih mahal dan lebih sulit dicari," sambung Nizar.
Nizar berharap, ke depan semakin banyak mahasiswa ISI Yogyakarta yang mengikuti program student exchange sehingga bisa memperoleh pengalaman belajar dan berpameran di luar negeri.
"Kultur exchange, menurut sayaharus terus dikembangkan, karena jadi lebih terbuka dalam banyak hal dan bisa belajar banyak juga," tutup Nizar (iza)
Editor : Amin Surachmad