Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pakai Combine Harvester Untuk Panen, DKPP Klaim Modernisasi Pertanian di Bantul Sudah Berjalan

Gregorius Bramantyo • Selasa, 6 Februari 2024 | 01:30 WIB
EFISIEN: Petani mengolah lahan menggunakan traktor di Padukuhan Blawong, Kalurahan Trimulyo, Jetis, Bantul.
EFISIEN: Petani mengolah lahan menggunakan traktor di Padukuhan Blawong, Kalurahan Trimulyo, Jetis, Bantul.

BANTUL – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul terus berupaya menggenjot modernisasi di bidang pertanian.

Hal itu sejalan dengan tujuan Kementerian Pertanian (Kementan) yang merencanakan efisiensi dan peningkatan produktivitas hasil panen.

Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, modernisasi di bidang pertanian merupakan salah satu bentuk percepatan dalam proses penanaman.

Sebab, saat ini mayoritas petani di Bantul sudah berusia tua. Sehingga tenaga sudah berkurang.

“Dengan adanya modernisasi itu mempercepat pengolahan tanah dan mempercepat proses siklus dari suatu pertanaman,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (5/2).

Salah satu bentuknya adalah dengan penggunaan traktor untuk mempercepat proses pengolahan tanah.

Lalu, juga penyemprotan tanaman menggunakan drone yang dapat mengefektifkan biaya kerja dan menghemat tenaga kerja. Hal itu otomatis juga menghemat biaya produksi.

“Traktor juga lebih murah dibanding menggunakan pacul atau sapi dan kerbau, karena kalau itu kan waktunya lebih panjang dan lebih mahal,” kata Joko.

Selain itu, penggunaan alat tanam transplanter juga dapat mempercepat proses tanam dan menekan biaya.

Kemudian banyak petani di Bantul juga sudah menggunakan mesin combine harvester untuk panen.

Joko mengungkapkan, modernisasi pertanian di Bantul sudah berjalan. Sudah ada beberapa alat-alat mekanisasi walaupun usianya sudah tua karena merupakan bantuan lama.

“Tapi, harapan kami ada tambahan lagi dari pusat terutama traktor, karena itu yang benar-benar kami butuhkan,” harap Joko.

Joko menjelaskan, satu traktor hanya mampu mengolah 20 sampai 25 hektare lahan dalam satu proses pengolahan lahan. Padahal luas lahan pertanian di Bantul mencapai 14 ribu hektare.

Ia berharap jumlah traktor bisa tercukupi. Sehingga tanah-tanah itu bisa terolah.

“Jangan sampai traktornya antre akhirnya tidak bisa tanam yang serempak,” ucapnya.

Modernisasi pertanian di Bantul dilakukan di lahan tanaman pangan dan hortikultura. Untuk lahan pasir juga telah menggunakan mekanisasi dengan elektirifikasi listrik.

Hal itu dapat menghemat biaya dan listrik. Sebab apabila menggunakan pompa diesel atau bensin akan lebih boros.

“Sekarang hampir semua lokasi di Bantul sudah menggunakan traktor untuk pengolahan tanah. Lalu para petani saat ini juga sudah mulai beralih menggunakan combine harvester untuk panen,” kata Joko.

Ia menyebut, dinasnya juga mendorong modernisasi pertanian dengan sejumlah upaya. Seperti pelatihan terhadap penggunaan alat mekanisasi.

Lalu, juga ada kegiatan bantuan elektrifikasi terutama untuk lahan pasir.

Kemudian juga ada bantuan dari APBN seperti combine harvester untuk panen maupun traktor untuk pengolahan lahan.

“Saya kira kalau di Bantul modernisasi sudah jalan,” sebutnya.

Ia menjelaskan, bantuan alat pertanian sudah diberikan oleh pemerintah pusat sejak lama. Dinasnya hanya memfasilitasi usulan dari kelompok tani ke tingkat pusat.

"Nanti direkap dan proposal diajukan ke APBN, karena terus terang anggarannya banyak di pusat,” imbuhnya.

Pada tahun 2023 lalu, DKPP Bantul telah menerima bantuan sejumlah alat pertanian. Seperti traktor kultivator, pompa, dan combine harvester.

Di samping itu, banyak kelompok tani yang memang mengajukan peralatan tersebut.. “Kami mendapatkan alat panen itu 11 unit combine harvester yang harganya hampir Rp 500 juta,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani Patalan Sumantri mengungkapkan, saat ini kelompoknya telah memanfaatkan alat modern untuk pertanian. Meskipun jumlahnya masih terbatas.

Menurutnya, saat ini beberapa petani di kelompoknya telah menggunakan traktor untuk pengolahan lahan dan power thresher untuk perontokan padi.

“Tapi saat ini Gapoktan Patalan belum punya mesin panen dan mesin tanam. Untuk penanaman rata-rata masih manual, kalau panen biasanya pakai jasa sewa combine harvester,” ungkapnya. (tyo) 

Editor : Amin Surachmad
#DKPP Bantul #kementan #Combine #bidang pertanian #modernisasi