BANTUL – Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengungkapkan cadangan beras lokal yang ada saat ini menipis.
Maka dari itu, Perum Bulog harus mengimpor beras sebagai pasokan cadangan pangan.
Arief menjelaskan, Perum Bulog mengimpor 600 ribu ton beras dari Myanmar dan 500 ribu ton dari Thailand.
Artinya, total saat ini ada 1,1 juta ton beras impor.
“Ini memang keputusan pahit tapi harus kita kerjakan supaya pemerintah dan masyarakat tetap memiliki pasokan pangan, utamanya beras,” katanya kepada wartawan di Gudang Bulog Sendangsari, Bantul, Selasa (30/1).
Sementara untuk stok nasional, Arief mengungkapkan, saat ini ada 1,4 juta ton beras impor yang terus menerus masuk. Beras impor ini akan disetop saat para petani mulai panen.
“Perintah Pak Presiden (Joko Widodo) harga di petani harus baik. Beliau meminta impor untuk cadangan pangan. Tapi, saat panen raya, harga harus baik sehingga nilai tukar petani 114 persen ini jadi angka yang terbaik,” ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini pihaknya telah bertemu dengan pemilik penggilingan padi di DIY.
Di mana, di tingkat penggilingan padi, saat ini harga gabah sangat tinggi yakni di atas Rp 8 ribu.
Angkanya bisa mencapai Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu apabila tanpa diberikan bantuan beras cadangan pangan pemerintah dari Bulog.
“Sehingga bantuan pangan, SPHP tetap dijalankan menyeluruh se-Indonesia,” imbuhnya.
Terkait dengan ketersediaan stok beras, Arief menyebut saat ini terbilang aman. Bantul sendiri memiliki 1.000 ton stok beras.
Badan Pangan Nasional memang menugaskan Perum Bulog untuk memastikan minimum stok beras adalah satu juta ton pada akhir tahun.
Artinya, setiap transfer ganti tahun harus ada stok 1,2 juta ton beras.
Arief memaparkan, stok itu sudah termasuk yang ada bantuan pangan. Di mana penyaluran selama tiga bulan bisa sampai sekitar 200 sampai 300 ribu ton setiap satu bulannya.
Kemudian ada lagi 1,2 juta ton, juga untuk stabilisasi pasokan sepanjang tahun.
“Pak Presiden menyampaikan khusus Januari dan Februari sebelum panen besar ini pangan khusus untuk beras didobelkan, bukan bantuan pangan, tetapi beras untuk stabilisasi,” papar Arief. (tyo)
Editor : Amin Surachmad