BANTUL – Pembangunan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Argodadi, Sedayu, menjadi salah satu bagian rencana dari Pemkab Bantul untuk menangani masalah sampah.
TPST tersebut menjadi salah satu program strategis daerah dan menjadi prioritas utama.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul Ari Budi Nugroho mengatakan, pembangunan TPST Sedayu diprioritaskan dan didahulukan karena untuk mengejar target desentralisasi sampah di DIY. Sesuai dengan perintah gubernur.
Hanya saja, pelaksanaan secara teknis ada di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul.
“Karena anggarannya ada di Dinas PU, jadi nanti yang mengawal persis untuk pelasanaan ada di Dinas PU,” katanya kepada wartawan di Rumah Dinas Bupati Bantul, Selasa (16/1).
Ia menjelaskan, secara prinsip dari kebijakan makro, pengadaan TPST itu adalah program strategis daerah Bantul untuk mendukung desentralisasi pengolahan sampah.
Menurutnya, jika sudah disebut strategis, maka akan menjadi prioritas. “Seperti mungkin dari proses tendernya didahulukan atau diprioritaskan,” ujarnya.
Ari menyampaikan, TPST Sedayu ditargetkan dapat mengolah sampah hingga 60 ton per hari untuk wilayah Bantul barat.
Kemudian, ia memastikan bahwa kebutuhan tenaga pengolah sapah di TPST Sedayu nantinya diprioritaskan bagi warga sekitar. Rencananya berjumlah sekitar 30 tenaga pengolah.
“Ada trainingnya nanti setelah ada rekrutmen. Mereka sebelum diterjunkan dapat pelatihan karena nanti dari instalasi itu banyak peralatan dan itu nanti juga ada pendampingan dari kami juga,” jelas Ari.
Ia menjelaskan, dalam desain kontrak TPST Sedayu, disebutkan bahwa siapapun pihak yang memenangkan proses tender nantinya berkewajiban untuk melakukan pendampingan dalam proses operasional.
Sehingga pendampingan tidak hanya terkait dengan personel, namun juga dalam prosesnya.
“Karena kan di sana nanti banyak peralatan. Sehingga nanti harapannya dengan pendampingan itu, alat bisa berjalan dengan optimal sehingga sampah yang masuk bisa terkelola dengan baik,” katanya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menambahkan, TPST Sedayu akan dibangun menggunakan APBD Bantul dengan anggaran Rp 20 miliar. Ditargetkan selesai pada akhir 2024.
Nantinya TPST Sedayu akan menggunakan teknologi refuse derived fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Sama seperti yang digunakan oleh TPST Tamanmartani di Kalasan, Sleman.
"Nantinya hasil RDF akan diambil oleh pabrik di Cilacap," ungkap Halim. (tyo)
Editor : Amin Surachmad