RADAR JOGJA – Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Guwosari kini mulai mengembangkan Lumbung Mataraman. Lahan pertanian tersebut dikelola menggunakan pupuk kompos yang dihasilkan dari sampah organik dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recylce (TPS-3R) Go-Sari.
Ulu-Ulu Kalurahan Guwosari Umarwanto mengatakan, tanah seluas 1,7 hektare tersebut merupakan tanah kas desa dan tanah pelungguh yang semi tandus. Memiliki jenis tanah liat, dan hanya bisa ditanami di musim tertentu saat ada air.
Tahun lalu, pemkal mendapatkan alokasi dana keistimewaan (danais) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIJ. Bersamaan dengan itu, kalurahan juga sudah mempunyai unit usaha yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yakni TPS3R Go-Sari. Di mana saat ini pelanggan TPST tersebut sudah mencapai 700 kepala keluarga (KK).
Saat ini sampah yang mendominasi TPS3R Go-Sari adalah sampah organik. Baik organik halus dan kasar. Organik halus digunakan untuk budi daya maggot lalu menghasilkan pupuk kompos yang alami. “Itu juga kami gunakan untuk mendukung kegiatan yang ada di Lumbung Mataraman,” ujar Umarwanto kemarin (8/1).
Dia berharap, pertanian yang ada di Lumbung Mataraman bisa menjadi pertanian yang berbasis dari pengolahan sampah. Artinya hasil olahan sampah yang ada di Kalurahan Guwosari yang dikelola oleh TPST Go-Sari digunakan untuk menyuburkan Lumbung Mataraman yang kini berisi sayuran cabai, terong, dan jagung.
“Harapannya petani yang menggarap bisa seperti sawah pada umumnya, menanam setahun tiga kali,” lontarnya.
Sementara itu, Direktur BUMDes Guwosari Muhammad Iqbal menjelaskan, sampah rumah tangga yang dikelola oleh TPST sebanyak 55 persennya merupakan sampah organik. Sampah organik sisa dari rumah tangga bisa untuk budi daya manggot. Kemudian sisa tanaman gunakan untuk komposting. “Kemudian maggot mendukung peternakan yang ada untuk penggemukan ayam joper di kawasan Lumbung Mataraman," ujarnya.
Selanjutnya dari residu yang didominasi oleh popok bayi dan pembalut dimasukkan ke mesin pencacah. Sedangkan gel-nya dipisahkan untuk pertanian. Menurut Iqbal, gel dari beberapa produk tersebut ternyata memiliki daya serap yang bagus yang dapat menjawab permasalahan tentang air di Guwosari. Selain itu, sampah residu dibakar di incinerator dan abunya digunakan mendukung di sektor pertanian. "Beberapa potensi yang dihasilkan dari pengolahan sampah itu yang kami coba gunakan untuk mendukung sektor pertanian di Lumbung Mataraman," tambahnya.
Pada tahun ini, BUMDes bekerja sama dengan Gapoktan dan Pokdarwis setempat akan mengembangkan Lumbung Mataraman menjadi objek wisata berbasis pertanian dan peternakan. Selain itu, BUMDes juga mengusulkan program pertanian berbasis elektrifikasi dan IoT. Karena kondisi saat ini di Kalurahan Guwosari rata-rata petani sudah lanjut usia. "Harapannya dengan adanya teknologi di sektor pertanian bisa menarik minat pemuda atau generasi muda agar melirik sektor pertanian," tandasnya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika