RADAR JOGJA - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul Yohanes Hendra mengatakan, wisatawan telah terbiasa dengan adanya kenaikan tarif penginapan saat libur Nataru.
Menurutnya, selama libur Nataru merupakan kesempatan bagi industri akomodasi untuk meningkatkan tingkat hunian kamar hotelnya. “Sehingga kami menyerahkan kepada masing-masing manajemen hotel untuk menerapkan tarif penginapan,” katanya Rabu (27/12).
Data PHRI Bantul, okupansi hotel berbintang dan non bintang di Kabupaten Bantul terus mengalami peningkatan. Menurutnya, saat ini okupansi hotel berbintang di Bumi Projotamansari mencapai sekitar 80 sampai 85 persen pada tanggal 23 hingga 26 Desember 2023. Sementara okupansinya mengalami penurunan sekitar 75 persen pada 27-29 Desember 2023.
“Kemudian 30 Desember 2023 sampai 2 Januari 2024 kurang lebih diprediksi 85 90 persen okupansinya,” katanya.
Sementara itu, tarif penginapan di hotel Kabupaten Bantul telah mengalami peningkatan berkisar 15 hingga 30 persen dari harga normal. Menurut Hendra, saat ini mayoritas wisatawan yang menginap di hotel berbintang dan non bintang di Bantul masih didominasi dari Pulau Jawa. Meskipun beberapa wisatawan yang menginap ada yang berasal dari Sumatera dan dari daerah lain di luar Jawa.
“Tapi persentasenya masih belum signifikan,” ujarnya.
Sebelumnya, PHRI Bantul mematok target okupansi hotel sebesar 80 hingga 85 persen selama libur Nataru 2023. PHRI menyebut saat ini target tersebut telah terlampaui. Hendra pun mengimbau agar manajemen hotel dapat memberikan fasilitas tambahan untuk dapat menambah kenyamanan wisatawan meskipun harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga normal.
“Untuk kenaikan harga itu merupakan regulasi masing-masing industri (hotel). Kami dari PHRI mengimbau agar kenaikan harga diimbangi dengan fasilitas,” ucapnya.
Kasi Promosi dan Pelayanan Informasi Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Adi menjelaskan, sebanyak 109.553 wisatawan mengunjungi objek wisata di Kabupaten Bantul selama libur Nataru pada tanggal 22-26 Desember 2023. Dari jumlah tersebut, pendapatan asli daerah (PAD) yang masuk mencapai Rp 1.057.013.500. Dari jumlah tersebut, sebanyak 82 persen berwisata ke wilayah Pantai Parangtritis.
"Jumlah pengunjung lebih banyak tahun ini. Selama libur Nataru, sekitar 82 persen ke Pantai Parangtritis," ujar Ipung, sapaannya.
Ia memaparkan, dengan pencapaian PAD hingga 26 Desember 2023, target PAD dari wisata pada tahun 2023 mencapai sebesar Rp 25 miliar, dengan target Rp 26,5 miliar. Target PAD tahun ini lebih tinggi sedikit dibandingkan pencapaian PAD tahun sebelumnya yang mencapai Rp 26,2 miliar.
Baca Juga: Parkir Sembarangan, Puluhan Kendaraan Digembosi dan Digembok Bannya, Paling Banyak di Pasar Kembang
Namun dengan sisa empat hari masa liburan hingga akhir tahun, ia pesimis target sebesar Rp 26,5 miliar akan tercapai. Apalagi rata-rata wisatawan yang masuk ke Pantai Parangtritis hanya sebesar 17 ribu wisatawan per hari. Sebelumnya long weekend hingga Selasa (26/12) mendorong jumlah wisatawan ke kawasan wisata tersebut. Sedangkan saat ini, masyarakat yang karyawan sudah mulai kembali bekerja.
"Harus realistis ini berat. Kalau mau mencapai target setidaknya yang masuk ke Parangtritis kira-kira harus 23 ribu wisatawan per hari," bebernya. (tyo)
Editor : Heru Pratomo