RADAR JOGJA – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul memastikan Kabupaten Bantul nihil kasus antraks. Untuk mengantisipasi antraks maupun penyakit menular lain pada hewan ternak, DKPP Bantul tetap mengoptimalkan pos kesehatan hewan (poskeswan).
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, sejauh ini kasus antraks yang terjadi di luar Kabupaten Bantul tidak memberikan dampak negatif terhadap kesehatan hewan di wilayahnya. Guna melakukan pengawasan terhadap hewan ternak, DKPP Bantul mengoptimalkan poskeswan di 10 titik yang tersebar di seluruh kapanewon. Masing-masing poskeswan terdapat dua dokter hewan. “Kemudian ada petugas paramedis," ujar Joko kepada wartawan kemarin (15/12).
Di dalam poskeswan tersebut juga ada program vaksinasi ternak untuk mengantisipasi antraks. Selain memeriksa kondisi kesehatan hewan ternak yang masuk ke Bantul. Juga ada pemberian disinfektan untuk ternak.
"Karena antraks itu kan spora bisa hidup di dalam tanah sampai puluhan tahun. Kami antisipasi baik lewat disinfektan atau antiseptik, yang penting selalu jaga kebersihan ternak," jelasnya.
Selain itu, pengawasan ketat juga dilakukan di pasar hewan besar yang berada di Kapanewon Imogiri. Di mana setiap pasaran Legi, jumlah sapi yang masuk mencapai 800 ekor. "Tapi ya paling dari luar Bantul, seperti Wonogiri, Pacitan, dan sekitarnya," ucap Joko.
Joko menyebut, apabila antraks menyerang ternak, baik dalam skala besar maupun kecil, maka berpotensi menimbulkan permasalahan ekonomi di Kabupaten Bantul. Untuk itu, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat terhadap sejumlah hewan ternak di Kabupaten Bantul. "Karena terus terang mobilitas ternak untuk keluar atau masuk di Kabupaten Bantul itu masih cukup tinggi untuk dipergunakan menjadi bahan baku kuliner," ucapnya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika