BANTUL - Sebanyak 36 kalurahan di Kabupaten Bantul rawan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Seluruhnya tersebar di 15 kapanewon di Kabupaten Bantul.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi potensi bencana tersebut. Di antaranya, menyiapkan sarana prasarana seperti genset, perahu karet, dan pelampung.
“Lalu, mengaktifkan kembali pos bansor (banjir longsor) dan angin kencang," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bantul Antoni Hutagaol, Kamis (30/11).
Sebanyak 36 pos bansor akan diaktifkan di kalurahan yang memiliki potensi bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Ditambah ah, satu pos induk di kantor BPBD Bantul.
Sebelumnya, jumlah pos bansor di Bantul berjumlah 29. Namun, setelah ditinjau ulang, BPBD akhirnya menambah pos bansor di tujuh kalurahan.
Penambahan itu mempertimbangkan sejumlah faktor. Di antaranya, situasi kebencanaan di tahun ini yang berkembang.
“Berdasarkan data dari tahun ke tahun, kami lihat ada perkembangan dan perubahan tren. Makanya saat ini (penambahan pos) masih bertahap,” ujar Antoni.
Pos bansor di 36 kalurahan tersebut akan mulai diaktifkan pada 1 Desember 2023. Akan beroperasi hingga 29 Februari 2024 mendatang. Saat ini, BPBD Bantul sedang mengajukan surat keputusan (SK) tentang status siaga banjir dan tanah longsor.
"Sudah mulai dihidupkan karena kita menghadapi adanya cuaca ekstrem di bulan Desember,” imbuh mantan pejabat Dinas Lingkungan Hidup Bantul ini.
Ia mengatakan, rencananya semua kalurahan di Kabupaten Bantul akan memiliki pos bansor di tahun 2024 mendatang. Hal itu agar penanggulangan dan pencegahan bencana bisa merata di 75 kalurahan di Kabupaten Bantul.
Sebab, bencana hidrometeorologi seringkali tidak bisa diprediksi. “Harapan saya 75 kalurahan di Bantul harus ada pos bansor. Terlepas skala bencananya besar atau kecil, kan kita tidak tahu,” ucapnya.
Baca Juga: Ribuan Alat Peraga Kampanye Langgar Aturan, Satpol PP Bantul Siap Tertibkan
Dari evaluasi pos bansor yang beroperasi pada tahun lalu, Antoni membeberkan, kondisi dan aktivitas di setiap pos berbeda-beda. Ada pos yang sangat aktif dalam penanggulangan karena terjadi bencana. Namun, ada pula pos yang tidak memiliki banyak aktivitas.
Hal itu lantaran di titik tersebut tidak terjadi bencana. Atau, hanya terjadi bencana dalam skala kecil.
Namun, secara umum, ia menilai fungsi dari pos bansor selama ini sudah berjalan dengan baik.
“Respons para relawan cepat, kalau terjadi sesuatu langsung komunikasi dengan kami. Fungsi pos bansor itu untuk bisa memantau kondisi di lapangan 24 jam,” jelasnya.
Mantan pejabat Dinas Pariwisata Bantul ini menyebut, pihaknya memang tidak mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan pos bansor. Di mana, sejauh ini penganggaran hanya bersifat sukarela
Namun, pihaknya sedang mencoba mengajukan anggaran untuk sarana komunikasi bagi para relawan yang beraktivitas di pos bansor.
"Tahun lalu kami memberikan logistik, untuk yang tahun ini kami memberikan sejumlah uang saku untuk konsumsi dan logistik. Karena selama ini anggaran kami terbatas,” ungkapnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad