RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Bantul menggelar Gerakan Pangan Murah di Lapangan Dwi Sapta, Ringinharjo, Bantul Selasa (28/11). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul ini dalam rangka untuk menyambut Hari Pangan Nasional. Juga untuk mengoptimalkan harga pangan dan sebagai salah satu bentuk pengendali inflasi.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, kegiatan Gerakan Pangan Murah sebelumnya sudah dilaksanakan di sejumlah lokasi. Seperti di Ganjuran, Kretek, dan Kompleks Pemda 2 Manding. Kegiatan ini sendiri rutin digelar setiap tahunnya. “Hanya volume setiap tahunnya berbeda. Sesuai dengan kemampuan penganggaran,” katanya.
Anggaran untuk Gerakan Pangan Murah ada yang berasal dari APBN dan APBD. Untuk kegiatan di Ringinharjo sendiri menggunakan anggaran APBD. Dengan bahan kebutuhan pokok yang disediakan seperti beras, gula pasir, telur ayam, minyak goreng, tepung, bawang merah, dan bawang putih.
Pihaknya bekerja sama dengan Bulog dan sejumlah distributor untuk menjual berbagai bahan pokok itu di bawah harga pasar. Sejumlah distributor itu antara lain PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, KT Ngudi Makmur, UD Sumber Telur Jaya, dan sejumlah gabungan kelompok tani. “Yang jelas pemerintah membantu transportasi distribusinya,” ujar Joko.
Gerakan Pangan Murah ini juga berpengaruh terhadap kebutuhan suplai masyarakat menjelang akhir tahun. Sebab sejumlah harga bahan pokok saat ini masih relatif tinggi seperti beras. Yang dipengaruhi oleh faktor belum panennya padi akibat El Nino. Hal itu membuat para petani mengubah pola menanam dari padi ke palawija. “Kemudian gula pasir sekarang sudah Rp 18 ribu per kilogram, ada kenaikan menghadapi Nataru, kan kasihan masyarakat kecil,” ucapnya.
Lurah Ringinharjo Sulistiya Atmaji menjelaskan, harga bahan pokok dalam Gerakan Pangan Murah ini selisih Rp 1.000 hingga Rp 2.000 di bawah harga pasaran. Karena kegiatan ini menggunakan anggaran APBD, maka kuota bahan pokoknya relatif lebih kecil. “Sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan banyak warga,” jelasnya.
Atmaji membeberkan, ada batasan bagi warga yang membeli. Warga yang merupakan pedagang tidak diperbolehkan. Karena dikhawatirkan akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kulakan. Pihaknya memprioritaskan kepada warga yang tidak mampu. “Kami saring lewat data identitas diri seperti KTP dan daftar kemiskinan,” bebernya.
Jumlah warga yang datang dan membeli kebutuhan bahan pokok dalam kegiatan ini sekitar dua ribu orang.
Sementara itu, Baidah, 57, mengaku, harga bahan pokok dalam program ini cukup membantunya. Sebab harganya lebih murah dari harga di warung atau pasar.
Dia pun turut membeli minyak goreng, tepung terigu, gula, dan telur. “Bahan pokok ini cukup untuk keperluan dua sampai tiga bulan,” kata warga Guwosari, Pajangan ini. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika