RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mengungkapkan adanya dugaan kasus Japanese Encephalitis (JE) yang menyerang sembilan warganya belum lama ini. Sebagian besar adalah anak-anak. Namun dari hasil pemeriksaan, sembilan warga itu negatif atau tidak terjangkit penyakit JE.
"Semuanya negatif. Jadi, sampai saat ini belum ada di Kabupaten Bantul," kata Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widyantara kemarin (27/11).
Dia menjelaskan, JE merupakan penyakit radang otak akibat virus dari gigitan nyamuk culex yang terinfeksi virus JE. Sehingga menyebabkan penyakit radang otak pada manusia. "Jadi nyamuk itu beda dengan nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah pada manusia," jelasnya.
Pihaknya juga menggencarkan edukasi mengenai gejala kasus JE dan antisipasinya. Agar nantiya masyarakat tidak panik dan pasien dapat segera terselamatkan.
Agus menyebut, gejala terinfeksi virus JE adalah penyakit infeksi sistemik. “Ada panas, kemudian tidak enak di badan. Tapi, (gejala, Red) kejang juga lebih dominan," bebernya.
Dinkes Bantul juga terus lakukan deteksi dini. Apabila ada kasus dengan gejala yang menuju ke arah JE. Untuk kemudian akan dilakukan penanganan lebih lanjut. "Jadi jangan sampai nanti, ada orang yang terlanjur (terpapar kasus JE, Red) menjadi lebih berat," sambung Agus.
Sebagai langkah tindak lanjut, dinas kesehatan terus menggencarkan imbauan kepada masyarakat mengenai pola hidup bersih dan sehat. Tidak hanya itu, imbauan kepada masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk juga turut dilakukan oleh. "Agar perkembangbiakan nyamuk culex tidak cukup besar di Kabupaten Bantul," tandas Agus. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika