Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DKP Bantul Dorong Budidaya Lele, Kebutuhan Masih Kurang 17 Ribu Ton

Gregorius Bramantyo • Jumat, 24 November 2023 | 23:20 WIB
PROSPEKTIF: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bantul, Istriyani. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
PROSPEKTIF: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bantul, Istriyani. (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

 

BANTUL - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul terus mendorong peningkatan budidaya lele. Hal itu dilakukan karena budidaya lele lebih mudah dilakukan di geografis wilayah Kabupaten Bantul.

Kepala DKP Kabupaten Bantul Istriyani menjelaskan, tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Bantul saat ini rata-rata masih sebanyak 31,7 kilogram per kapita per tahun. Produksi ikan sebanyak 14 ribu ton per tahun.

Menurutnya, produksi perikanan budidaya didominasi lele di atas tujuh ribu ton per tahun. Namun, belum bisa memenuhi kebutuhan warga.

“Ada kekurangan sekitar 17 ribu ton," katanya dalam acara Gebyar Hari Perikanan Nasional ke-10 Tahun 2023 di Pendopo Parasamya 2 Kompleks Pemda Manding, Bantul, Jumat (24/11).

Ia mengatakan, masyarakat Bantul sebenarnya gemar makan ikan lele. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya kuliner ikan lele di Bantul.

Apalagi, secara geografis, budidaya ikan lele dapat dilakukan dengan mudah di wilayah Bantul yang rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Budidaya ikan lele, ia menyebut, dapat dilakukan dengan air sumur. Mengingat air sungai yang cenderung kurang dan kemungkinan telah banyak mengandung polusi.

"Komoditas contoh budidaya air sumur itu adalah lele yang mudah dilakukan dan berlangsung di masyarakat, karena lele dengan air terbatas dan tebaran tinggi bisa dilakukan," ujarnya.

Guna mempersempit kesenjangan antara produksi dengan konsumsi ikan lele, pihaknya berupaya mendorong masyarakat agar melakukan budidaya ikan dengan teknologi.

Beberapa lokasi yang bisa dijadikan percontohan budidaya ikan lele yakni di Srandakan, Ringinharjo, dan Poncosari.

Baca Juga: Hindari Politisasi SARA Selama Masa Kampanye Pemilu 2024, Bawaslu Bantul: Jangan sampai Terjadi Pelanggaran

Di ketiga lokasi tersebut juga terdapat jejaring bisnis budidaya ikan lele. Tidak hanya teknologi budidaya ikan pada tebaran tinggi dengan sistem air deras saja.

Menurut Istriyani, jejaring bisnis ini penting karena dapat membantu pembudidaya baru memasarkan hasil produksinya. Juga mengurangi risiko dipermainkan oleh pasar.

"Program-program itu langsung kami sampaikan dengan jaringan itu supaya sejak awal bisa dibimbing sampai keberlanjutan," jelasnya.

Sementara itu, salah satu pembudidaya ikan lele SM Yunus, 73, menyebut permintaan ikan lele memang relatif lebih banyak dibandingkan ikan lainnya.

Usaha budidaya ikan ini juga banyak diminati oleh masyarakat. Sehingga 50 kolam miliknya dijadikan tempat pendidikan budidaya ikan lele sejak 2017.

"Almarhum suami saya ingin kolamnya dijadikan bukan untuk produksi, tapi pendidikan budidaya," ucapnya.

Lantaran tidak menargetkan jumlah produksi, ikan yang tidak lagi bisa bertelur akan dipanen untuk dijadikan produk ikan lele. Seperti abon lele, stik lele, dan rendang lele. Selain ikan lele, di kolam miliknya juga dibudidayakan ikan nila dan gurame.

Menurutnya, ikan lele seharusnya lebih banyak dibudidayakan. “Selain budidayanya yang cukup mudah, ikan lele memiliki gizi yang tinggi, dengan harga yang relatif terjangkau oleh masyarakat,” tandasnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#dinas kelautan dan perikanan #DKP #kabupaten bantul #budidaya lele