Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pertumbuhan Hotel di Bantul Sangat Lambat, Apakah Dulu Kalah Start?

Gregorius Bramantyo • Jumat, 24 November 2023 | 02:43 WIB
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra Dwi Utomo

 

BANTUL - Laju pertumbuhan perhotelan di Kabupaten Bantul saat ini masih cenderung lambat. Hal itu salah satunya ditandai dengan banyak wisatawan yang hanya ke Bantul untuk berkunjung. Sementara menginapnya di kabupaten atau kota lain.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul Yohanes Hendra mengatakan, pertumbuhan hospitality terutama hotel di Bantul sangat lambat. Ia sendiri sempat menyampaikan agar perizinan nomor induk berusaha (NIB) hotel dipermudah.

Menurutnya, untuk pembangunan hotel harus ada studi kelayakannya. Juga, harus ada izin prinsipnya.

“Ada aspek tata ruangnya juga, kan tidak semudah itu,” katanya, Kamis (23/11).

Ia menyebut, Pemda Bantul sendiri memang tidak mempersulit perizinan pendirian hotel di Bantul. Namun, ada kemungkinan investor yang kurang berminat untuk mengembangkan bisnis hotel di Bantul. Lantaran prosesnya yang lebih sulit dibandingkan kota atau kabupaten lain.

Oleh sebab itu, Hendra berharap para stakeholder atau pemangku kebijakan dapat bertemu dan berdiskusi. Agar investor dapat melirik potensi di Bantul untuk mengembangkan investasi perhotelan di Bantul.

Hal itu juga untuk menunjang tingkat length of stay di Kabupaten Bantul. “Tapi, saya tidak menyampaikan bahwa Pemda Bantul mempersulit. Pemda Bantul open,” tegasnya.

Menurutnya, para pemangku kebijakan harus saling berkoordinasi dengan asosiasi yang ada. Agar bisa menggaet investor. Tentunya dengan mempermudah akses perizinannya.

Sejauh ini, Hendra menyebut sudah ada beberapa investor yang tertarik untuk menanam modal perhotelan di Bantul.

Namun, menemui sedikit halangan karena investor juga melihat track record dan latar belakang, kemudian terkadang menemui hambatan dari warga.

Hendra menuturkan, pendekatan sosial sangat penting. Perlu dilakukan sosialisasi yang cukup jelas kepada masyarakat bahwa pendirian hotel tidak akan menyingkirkan masyarakat atau usaha kecil lainnya.

“Dengan adanya penambahan hotel yang ada di Kabupaten Bantul tentunya akan ada peluang untuk lapangan kerja,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo menambahkan, investor sendiri membutuhkan letak yang strategis untuk pengembangan bisnis perhotelan.

Sementara hampir semua wisatawan datang ke DIY titik kumpulnya di Kota Jogja. Hal itu pun membuat investor berinvestasi di area sekitar Kota Jogja.

“Kalau saya lihat, apakah dulu kalah start atau bagaimana, tapi ketika di Jogja sudah menjamur, di Bantul memang tidak begitu mudah mengembangkan perhotelan. Walaupun peluang itu tetap ada,” ungkapnya.

Mantan Panewu Sewon ini mengakui, di Bantul sendiri belum memiliki banyak wisata malam seperti Malioboro. Yang dapat membuat wisatawan menginap di dekat kawasan pariwisata.

Dengan belum banyaknya wisata malam di Bantul, membuat investor belum tertarik dan masih memperhitungkan untuk berinvestasi di Bantul. Meskipun pengembangan di wilayah Bantul selatan cukup prospektif untuk pertumbuhan hotel ke depannya.

“Tetapi kan sekarang memang pangsa pasarnya belum banyak. Sehingga memang belum ada kecocokan antara kebutuhan investor dengan kondisi lapangan yang ada,” tandasnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#hospitality #perhotelan #Bantul