Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Butuh Terobosan Strategis untuk Hidupkan PSWG Bantul, Hanya Ramai Saat Ada Event dan Kegiatan Komunitas

Gregorius Bramantyo • Jumat, 17 November 2023 | 04:46 WIB
POTENSI: Kondisi Pasar Seni dan Wisata Gabusan (PSWG) pada Kamis (16/11). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
POTENSI: Kondisi Pasar Seni dan Wisata Gabusan (PSWG) pada Kamis (16/11). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)

 

BANTUL – Kondisi Pasar Seni dan Wisata Gabusan (PSWG) sampai saat ini masih terbilang sepi. Banyak kios yang kosong dan tidak dimanfaatkan.

Pasar yang dibangun sejak 2004 dengan luas sekitar lima hektare tersebut kini dikelola oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul.

Dari pantauan Radar Jogja pada Kamis (16/11), suasana di PSWG terpantau sepi. Meskipun ada pelatihan batik yang diikuti oleh sebuah komunitas. Ada pula beberapa orang yang tampak nongkrong di kawasan tersebut.

Sementara banyak kios di pasar tersebut yang tutup. Hanya ada beberapa yang terlihat buka. Itupun bisa dihitung dengan jari. Padahal, ada puluhan kios di pasar tersebut.

Salah satu pedagang di PSWG, Ikbal Lungtunggal mengaku, kondisi pasar pada hari biasa memang sepi. Hanya ramai saat ada event atau acara komunitas saja. Itupun rata-rata hanya sebulan sekali.

Diakui, semenjak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung memang menurun. Pedagang barang antik khas suku Baduy itu menyebut, penjualan secara online juga mempengaruhi tingkat penurunan kunjungan ke PSWG.

“Saya enggak tahu apakah promonya kurang apa gimana. Saya kan pedagang, enggak tahu cara dinas gimana untuk meramaikan pasar ini,” katanya, Kamis (16/11).

Ia mengatakan, para pedagang pernah beberapa kali dikumpulkan bersama pengelola. Untuk rapat membahas soal kemajuan pasar supaya kembali ramai.

Sebelumnya, memang sering ada kunjungan rombongan wisata menggunakan bus pariwisata. Namun saat ini sudah jarang.

"Karena saya jual barang antik, kalau ramai pun belum tentu ada yang minat, hanya orang-orang yang hobi saja,” ujar Ikbal.

Pedagang asal Kabupaten Lebak, Banten itu berharap agar pengelola bisa melakukan inovasi promosi untuk menggaet pengunjung. Apalagi, para pedagang sudah berupaya untuk menjajakan dagangannya.

“Saya sudah menunjukkan kalau saya dagang dan buka nih, tapi melayani siapa, kami kan juga punya perut. Kami bisa saja buka tiap hari, tapi siapa yang mau beli,” keluhnya.

Pedagang lain, Samir mengaku pada hari biasa PSWG memang sepi dengan sedikit pengunjung. Menurutnya, pengunjung baru agak ramai ketika hari libur.

"Biasanya malam minggu atau hari libur, wisatawan juga banyak kalau libur,” ungkapnya.

Ia menempati kios di bagian depan PSWG. Ia menyebut, pedagang lain biasanya baru buka di sore hari. Untuk mensiasati kondisi sepi, ia juga berjualan secara online. “Alhamdulillah ramai,” ucapnya.

Menurutnya, ketika ada event, tingkat kunjungan pengunjung lumayan tinggi. Namun, tidak selalu ada event setiap bulannya. Terutama yang event skala besar.

Event besar yang mendatangkan banyak pengunjung yakni Bantul Expo yang digelar setiap Juli. “Harapannya diperbanyak event agar ramai,” harap Samir.

Sementara itu, Koordinator PSWG, Sigit Selo Raharjo mengatakan, dalam perkembangannya, PSWG memang mengalami pasang surut. Apalagi setelah direvitalisasi oleh Pemkab Bantul pada 2019.

PSWG pun secara regulasi disamakan dengan pasar tradisional. Sehingga diberlakukan retribusi dan kewajiban lainnya bagi pedagang.

“Karena kondisi sepi yang diperparah dengan pandemi Covid-19, banyak pedagang yang mengundurkan diri,” ungkapnya.

Setelah itu, pihaknya hanya mengandalkan agenda event dan komunitas untuk meramaikan PSWG. Contohnya komunitas barang antik, lalu juga ada pusat oleh-oleh. Namun akhirnya juga tenggelam.

Pada saat pandemi Covid-19, PSWG pernah mendapat bantuan dari sejumlah dinas unutk mengadakan pasar tani untuk mendongkrak jumlah pengunjung. Namun ternyata juga tidak cukup mendongkrak.

“Sekarang yang terjadi banyak pedagang lama yang tutup. Kami di sini tidak bisa memaksa,” kata Sigit.

Ia menilai, sepinya pedagang lantaran mereka kini berlaih berjualan online. Akhirnya banyak kios yang ditinggalkan. Pihak pengelola PSWG pun juga pernah bekerja sama dengan pihak pariwisata.

Untuk menjadikan PSWG sebagai pintu masuk wisata Parangtritis. Namun, dalam perkembangannya juga tidak berjalan.

“Sekarang kami menghidupkan ini dengan memperbanyak event. Sebisa mungkin biar ramai kami buat event,” imbuhnya.

Event yang digelar baik dari pemerintah maupun komunitas. Dari Pemkab Bantul, event selain Bantul Expo ada juga Pasar Klangenan. Lalu ada pula event dari komunitas seperti anniversary komunitas mobil kemudian komunitas burung.

Selain itu, sebelumnya juga pernah ada lelang barang antik di PSWG. “Tapi akhir-akhir ini melempem juga,” ujarnya.

Sigit menjelaskan, sebenarnya Pemkab Bantul sudah memiliki gambaran konsep PSWG ke depan. Rencananya akan dijadikan pusat ekonomi kreatif.

Namun hingga saat ini belum juga berjalan. Baginya, konsep PSWG ke depan tak perlu muluk-muluk. Hanya menjadikan PSWG sebagai taman hiburan rakyat bagi warga Bantul.

Dengan lokasi yang strategis dan area yang luas, kawasan tersebut sangat potensial untuk mendulang pendapatan asli daerah (PAD). Pengelolaan ke depan, menurut Sigit, tentunya juga menyesuaikan dengan kondisi perekonomian di Bantul.

“Kalau menurut saya begitu. Tapi kan saya bukan pemegang kebijakan, saya hanya bisa menyampaikan melalui kepala dinas,” tandasnya. (tyo)

Editor : Amin Surachmad
#gabusan #pasar seni