Harga Kedelai Impor Naik, DKUKMPP Bantul Berusaha Agar Ada Kedelai Lokal Unjuk Gigi
Gregorius Bramantyo• Rabu, 8 November 2023 | 01:48 WIB
TETAP PRODUKSI: Pegawai mengemas kedelai untuk dijadikan tempe di Pabrik Tempe Murni Muchlar di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Selasa (7/11). (Gregorius Bramantyo/Radar Jogja)
BANTUL - Harga kedelai impor yang terus mengalami kenaikan. Hal ini dikeluhkan produsen tempe. Tak terkecuali, produsen tempe Muchlar di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.
Pengelola pabrik tempe Muchlar, Abdul Karim, mengatakan, biasanya kedelai impor impor berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram.
Sedangkan saat ini harganya disebut sudah mencapai sekitar Rp 13.200 per kilogram.
“Itu kedelai impor dari Amerika. Harganya sekarang lagi naik terus,” katanya kepada Radar Jogja, Selasa (7/11).
Kondisi itu direspons Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) Bantul Agus Sulistyana. Menurutnya, pihaknya belum memiliki rencana untuk memberikan subsidi untuk harga kedelai.
Sebab, aturan menggenai subsidi cukup rumit. Apalagi, subsidi berkaitan dengan besaran uang.
“Saat ini Indonesia kan baru butuh uang yang banyak untuk hal-hal lain, seperti pemilu misalnya,” ujarnya.
Disinggung mengenai penyebab terus merangkaknya harga kedelai impor, Agus mengakui belum bisa memastikan penyebabnya. “Penyebab (naiknya harga kedelai impor) saya kurang tahu kalau itu,” ucapnya singkat.
Meski begitu, DKUKMPP Bantul berusaha agar ada kedelai lokal Bantul yang mampu unjuk gigi. Itu dengan menyiapkan ketersediaan pangan berkelanjutan melalui Sistem Resi Gudang (SRG) di Gudang SRG Niten.
Di mana, pengelolaannya bekerja sama dengan CV Java Agro Prima. “Sekarang sudah mulai melatih kepada petani untuk menyiapkan dan menanam benih, lalu memanennya nanti dengan kedelai Bantul,” jelasnya.
Ia berharap jika nantinya 700 hektare lahan bisa panen. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan SRG yang akan menyimpan hasil panen tersebut.
Ketika harga komoditas kedelai turun, petani kedelai akan mendapatkan sertifikat resi yang bisa diuangkan.
“Pinjaman yang bisa diberikan kepada petani mencapai 70 persen dari total harga jual pasaran dari komoditas yang diresikan. Nantinya semua hasil penjualan bisa diambil petani sesuai kesepakatan dengan pengelola,” bebernya. (tyo)