BANTUL - Ruas Jalan Imogiri-Siluk setiap pasaran Legi dalam kalender Jawa selalu dipadati oleh penjual barang-barang klithikan.
Setiap pasaran Legi, ruas jalan tersebut penuh dengan penjual dan pembeli klithikan. Barang-barang yang dijual pun beraneka ragam.
Itu mulai dari onderdil kendaraan, gawai, peralatan rumah tangga, barang elektronik, pakaian, hingga barang-barang bernuansa tradisional.
Barang-barang itu dijajakan oleh para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Klithikan Pasar Sapi Imogiri. Yang hanya ada setiap Legi pukul 06.30 hingga 12.00.
Keberadaan pasar klithikan di Jalan Imogiri-Siluk menambah ramai pasar Legi, yang identik dengan pasar hewan.
"Pasar klithikan itu sudah ada sejak 2018 dan terus eksis hingga sekarang," kata Ketua Paguyuban Klithikan Pasar Sapi Imogiri, Wintala Hadisugita, Rabu (1/11).
Ia menjelaskan, di lokasi tersebut sebelumnya hanya ada pasar sapi. Lalu, karena banyak pembeli yang berdatangan, maka hal itu dimanfaatkan oleh sejumlah pedagang barang antik dan barang bekas. Untuk mendapatkan penghasilan.
"Sebelumnya hanya hanya ada enam orang saja yang berjualan. Jualannya di kanan-kiri jalan dekat Pasar Sapi Imogiri," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, para pedagang barang antik dan barang bekas terus bertambah. Saat ini, ada sekitar 300 pedagang barang antik dan barang bekas yang membuka lapaknya untuk berjualan di ruas Jalan Imogiri -Siluk.
Asal para pedagang tersebut pun bermacam-macam. Ada yang dari Bantul maupun luar Bantul.
Harga yang dibanderol oleh para pedagang di pasar itu juga terjangkau. Sehingga masyarakat bisa membeli barang sesuai kebutuhan. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam.
Baca Juga: Animo Tinggi, Bus Trans Jogja Palbapang-Malioboro Bakal Diremajakan
“Tidak cuma barang antik dan barang bekas saja yang dijual di sana. Ada juga barang yang kondisinya masih baru," ujar Wintala.
Salah satu pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Klithikan Pasar Sapi Imogiri, Yanto, mengungkapkan, telah cukup lama berjualan di lokasi tersebut.
Sejak sebelum pandemi Covid-19, dirinya sudah membuka lapak di lokasi tersebut. Lapak usahanya berada di sebelah utara Pasar Sapi Imogiri.
“Saya jualan alat elektronik, tabung gas kosong, lampu, dan peralatan lain,” bebernya.
Dalam sehari, Yanto mampu mendapatkan omzet Rp 600 ribu hingga Rp 2 juta. Pembeli dagangannya pun didominasi oleh warga lokal Bantul dan sekitar. Rata-rata dari Kapanewon Dlingo dan Kapanewon Kretek.
"Saya tidak cuma berjualan di sana saja, tapi pindah-pindah. Jadi, di mana ada pasar klithikan, di situ saya berjualan. Hasilnya alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan keluarga," katanya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad