BANTUL - Pendapatan asli daerah (PAD) pariwisata Kabupaten Bantul tahun ini diprediksi tak mencapai target. Diperkirakan hingga akhir tahun ini, PAD dari sektor pariwisata hanya akan mencapai sekitar Rp 25 miliar sampai Rp 26 miliar.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, pihaknya agak kurang optimistis target PAD pariwisata di Bantul tahun ini dapat terlampaui.
Sebab, angka tersebut berada jauh di bawah target tahunan sebesar Rp 50 miliar. Serta angka tersebut hampir sebanding dengan pencapaian di tahun sebelumnya.
“Kenyataannya adalah pariwisata belum pulih sepenuhnya setelah pandemi. Faktor lain yang memengaruhi adalah kondisi ekonomi nasional yang belum membaik sepenuhnya,” katanya saat ditemui Radar Jogja, Rabu (11/10).
Kunjungan wisatawan di Bantul sendiri baru mencapai sekitar 70-80 persen dari tingkat sebelum pandemi. Dalam konteks ini, menurutnya, diperlukan perhatian khusus terkait alternatif-alternatif pengembangan pariwisata di Bantul.
Tingkat kunjungan di hari biasa juga belum mencapai level yang diharapkan. Sebelum pandemi, tingkat kunjungan di luar musim ramai (low season) berkisar dua ribu hingga tiga ribu pengunjung. Jarang di bawah angka dua ribu pengunjung.
“Saat ini, angka kunjungan biasanya hanya sekitar 1.600 pengunjung. Ini menunjukkan bahwa meskipun masih di musim sepi, angka kunjungan masih di atas level musim sepi sebelumnya,” ujarnya.
Pariwisata di Bantul sendiri menghadapi beberapa tantangan yang perlu diatasi. Bulan ini, daerah ini memasuki musim sepi (low season) yang berlangsung hingga November. Kunjungan wisatawan selama periode ini relatif rendah.
“Hal ini memberikan gambaran bahwa pariwisata masih jauh dari kondisi sebelum pandemi COVID-19,”
Ia menambahkan, pariwisata Bantul akan tetap menggunakan dua pendekatan. Dengan mendukung pariwisata massal (mass tourism) karena sebagian besar Pendapatan Daerah Bruto (PDRB) berasal dari pariwisata massal.
Namun, Kwitarto menyebut, Bantul juga akan terus mendorong pariwisata berkualitas (quality tourism). Meskipun kunjungan berkualitas mungkin menghasilkan lebih sedikit pendapatan, pariwisata massal tetap menjadi fokus utama.
"Itu berarti memberikan pengalaman positif bagi pengunjung, menjaga tingkat kunjungan, dan memastikan keberlanjutan sektor pariwisata,” tandasnya. (tyo)