Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Sosok Subandi Giyanto Pelukis Asal Bantul, Dari Penata Wayang hingga Tertarik Visual

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 10 Oktober 2023 | 20:25 WIB
Subandi Giyanto sedang melukis sebuah lukisan bermotif kuda, foto diambil pada 17 Juni 2023. (Angela Maria Bria Resi/UMBY)
Subandi Giyanto sedang melukis sebuah lukisan bermotif kuda, foto diambil pada 17 Juni 2023. (Angela Maria Bria Resi/UMBY)

RADAR JOGJA - Berjibaku dengan kanvas, kuas dan cat lukis sudah menjadi rutinitas Subandi Giyanto.

Namun tak melulu itu, Subandi juga memanfaatkan media kaca, kertas, logam dan Aluminium untuk menuangkan segala idenya.

Ya, sudah 58 tahun dia menceburkan diri dalam bidang yang digemarinya. Yakni, melukis. Hingga akhirnya dikenal sebagai pelukis kaca tersohor di Jogjakarta.

Subandi mengaku, gemar melukis sejak berusia 7 tahun. Berawal dari kebiasaannya menata wayang, lama-kelamaan dia tertarik pada visual wayang. 

Dari visual tersebut lalu dia kembangkan hingga membentuk goresan-goresan indah.

Tak jarang, dia menampilkan figur kuda dengan efek transparan. Kalau dalam Nirmana dasar yang dipelajari di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, namanya teknik mencadari.

Pria usia 65 asal Padukuhan Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul itu dikenal hangat. Dia tak merasa teraganggu ketika seseorang mengunjunginya ketika dia masih melakoni aktivitasnya.

Meski sudah usia lanjut, Subandi masih aktif membuat berbagai karya lukisan.

Sejumlah karya dia kerjakan dengan media kaca. Kaca yang rentan pecah justru menjadi sahabat baginya, mengeksplor sejuta warna sapuan perpaduan cat.

Karya lukisan milik Subandi Giyanto mulai di ekspose keluar dan mulai mengikuti kegiatan pameran sejak 1976.

Seorang dari Belanda mengoleksi lukisannya. Saat itu, dia duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) tepatnya kelas XI.

"Orang yang mengoleksi lukisan saya, seorang pelukis romatisme berasal dari Belanda," ujar Subandi saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Pada 2005, karyanya pernah ditawar dan mengikuti sebuah pameran tunggal lukisan kaca. Dan ketika itulah ia di kenal sebagai pelukis kaca.

Menurutnya, meski terlihat asik, nyatanya membuat sebuah lukisan tidak segampang membuat pisang goreng. Perlu waktu berlama-lama merangkai ide, hingga tercipta lukisan. 

"Rata-rata lukisan yang saya buat berkisar 1-2 bulanan, tergantung dari objek dan ukuran lukisan yang akan digambar,” terangnya.


Selain melukis, Subandi ternyata juga membuka kursus les untuk semua kalangan yang ingin belajar melukis.

Subandi tidak membuat jadwal belajar sendiri semua tergantung dari kecepakatan antara murid yang ingin belajar. "Jadi waktunya semakin fleksibel," tuturnya.

Waktu belajar melukis biasanya 3-4 jaman karena Subandi Giyanto mengajarkan mulai dari dasar-dasarnya seperti menggambar detail terlebih dahulu, setelah itu baru mulai membuat hal-hal yang lainnya.


"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Semua orang bisa berkarya. Maka dari itu, nikmatilah seni dengan imajinasi mu, galilah apa yang menjadi potensi dari dirimu. Seni itu indah, seni itu istimewa, seni itu bagian dari representasi kehidupan," jabarnya. (Angela Maria Bria Resi)

Baca Juga: Soal Ekspor Senjata ke Myanmar, Begini Reaksi Ketua Yayasan LBHI

Editor : Meitika Candra Lantiva
#pelukis kaca #Subandi Giyanto #cat #Subandi Giyanto Pelukis #Seni #lukisan #pelukis bantul #warna