RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat sebaran kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bulan ini mencapai 7.700 kasus. Jumlah ini menurun dibandingkan periode Agustus yang menyentuh 10.300 kasus.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul Samsu Aryanto menjelaskan, kasus ISPA berjalan fluktuatif. Sebelum Agustus, ditemukan 7.079 kasus pada Juli. Sedangkan Juni ada 5.600 kasus, dan 6.400 kasus pada Mei. Untuk September, jumlah temuan kasus yang ada masih bisa bertambah. "Karena masih ada waktu beberapa hari lagi sampai September itu berakhir," kata Samsu Selasa (26/7/23).
Samsu memprediksi, penyebab munculnya kasus ISPA di Bantul berasal dari adanya perubahan iklim. Hingga musim kemarau yang berkepanjangan. Dari situ terdapat polusi udara. Kemudian menggangu sistem pernapasan sebagian masyarakat Kabupaten Bantul. Disebutkan, ISPA bisa menyerang semua golongan usia. “Sehingga kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," imbaunya.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak menimbulkan faktor risiko yang memicu terjadinya ISPA. Misalnya untuk tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Yang sebenarnya sudah mendapat larangan dari pemerintah. “Karena asap pembakaran sampah juga bisa memicu menggangu sistem pernapasan dan berujung pada timbulnya penyakit ISPA," kata Samsu.
Selain ISPA, penyakit yang banyak menyerang sistem pernapasan adalah Tuberkulosis (TBC). Dikatakan pada 2022 dan 2023 cenderung fluktuatif. Bahkan, ada 678 kasus pada triwulan pertama dan kedua 2023. “Sebaran TBC pada triwulan pertama 2023 mencapai 371 kasus. Sedangkan pada triwulan kedua 2023 mencapai 307 kasus,” rincinya.
Sementara sebaran TBC pada triwulan pertama dan kedua 2022 menyentuh angka 627. Dengan rincian triwulan pertama terdapat 322 kasus, dan triwulan kedua ada 305 kasus. Jika sebaran TBC pada triwulan pertama dan kedua 2023 dilakukan perbandingan dengan triwulan ketiga dan keempat 2022, maka tercatat mengalami penurunan. Sebab pada triwulan ketiga dan keempat tahun lalu mampu menyentuh 868 kasus.
Faktor penyebab munculnya TBC tersebut karena adanya bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang menyerang paru-paru manusia. Artinya jika ada lingkungan yang terkontraminasi bakteri Mycobacterium Tuberculosis dan dihirup oleh manusia, maka dengan mudah akan terpapar kasus TBC. "Faktor penyabab munculnya TBC itu ada faktor lingkungan, riwayat kontak, riwayat imunisasi dan perilaku," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, udara dingin pada puncak musim kemarau juga dapat menurunkan daya tahan tubuh. Sehingga masyarakat pun akan mudah terserang berbagai jenis penyakit.
Reni Kraningtyas menyatakan, dari hasil pantauannya selama awal September, suhu udara di Jogjakarta bahkan bisa mencapai 18,4 derajat celcius. Sementara untuk suhu rata-rata selama beberapa pekan terakhir mencapai 19-20 derajat celcius.
Fenomena itu disebabkan karena saat musim kemarau tutupan awan relatif sedikit. Sehingga proses pendinginan bumi berlangsung cepat. "Kami imbau masyarakat banyak minum air putih dan mengonsumsi vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh," katanya. (tyo/eno)
Editor : Satria Pradika