BANTUL, Radar Jogja - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Makarim menyambangi Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) Jogja, Senin (18/9/2023). Figur yang akrab disapa Mas Menteri itu disambut langsung Ketua Pembina Yayasan PSBK Butet Kartaredjasa.
Mereka bersantap siang bersama sambil membahas sejumlah hal terkait seni dan pendidikan. Di antaranya, pentingnya seni dalam membentuk karakter, mengasah kreativitas dan melatih keberanian anak.
Pada acara yang santai itu juga terlihat beberapa seniman dan budayawan pada satu meja makan bersama. Di antaranya, Suwarno Wisetrotomo, Gideon Guruh SP, Jumaldi Alfi, Ong Harry Wahyu, Doni Maulistya, Kuss Indarto, hingga Tri Agus TASS.
"Seni bukan hanya untuk mencetak seniman, tapi mengasah kreativitas dan keberanian dalam setiap anak generasi penerus," ujarnya.
Saat duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA), Mas Menteri Nadiem Makarim juga mengikuti kegiatan seni teater. Belajar seni, ternyata, berdampak bagi karir dan kehidupannya hingga saat ini.
"Jangan lupa dari ilmu yang saya dapatkan di sekolah, ilmu teater adalah yang paling berdampak pada karir saya. Kepercayaan diri saya, kemampuan untuk tampil, negosiasi, dan kolaborasi. Semua datang dari pengalaman teater saya di SMA," jelasnya.
Sementara itu, Butet Kartaredjasa mengatakan, pernah menyaksikan pertunjukan teater Mas Menteri di Singapura. Dia juga menyakini capaian yang dimiliki Mas Menteri Nadiem tidak lepas dari keberhasilan kegiatan berkesenian.
"Pencapaian bidang bisnis dan terpilih menjadi menteri pendidikam dan kebudayaan ristek, bukan semata-mata karena pendidikan formalnya yang di Harvard. Tetapi, dia selalu berbangga karena dirinya adalah aktor teater," jelasnya.
"Kebetulan saja, ketika dia SMA di Singapura, saya pernah nonton pertunjukan dia. Judulnya Tom Jones itu ujian akhir dia. Dia jadi aktor utamanya. Mainnya sangat bagus, memang dia aktor dan dia mengagmtakan karena menjadi aktor, dia mempunyai pencapain seperti hari ini," lanjutnya.
Butet mengatakan PSBK juga tidak menggunakan kekuatan seni semata-mata hanya untuk mencetak seniman saja. Namun, juga menjadikan seni sebagai kekuatan untuk ilmu hidup. Butet sepakat dengan apa yang disampaikan Mas Menteri.
"Dan itu terkoneksi dengan apa yang beliau alami, sebagai manusia seni. Hidup dari kekuatan seni," imbuhnya. (lan)
Editor : Amin Surachmad